Aku telah lama menantikan, seseorang datang dan berkata, Engkau masih orchid ungu-ku. Tapi, pada akhirnya, aku menemukan seseorang berkata, Akhirnya kau hadir untukku, Orchid. Setelahnya, aku menyadari, itu hal terindah yang pernah kudengar.... Lebih dari kata-kata yang kubayangkan sendiri. Kehadirannya adalah sejuta orchid itu dan aku mekar di antaranya...........

Saturday, August 09, 2008

SATU KALI SUMMER, SATU KALI AUTUMN

Aku menatap laki-laki ini. Wajah tirusnya tersisip senyum khasnya yang santai.

“Dave..” suaraku menggantung.

“Hmm, Ya?” tanyanya gusar, aku jadi kehilangan kata-kata.

“Ah, bukan apa-apa...” Sahutku pendek, membuatnya menggelengkan kepala. Lalu didatanginya aku.

I’m gonna be fine...,” bisiknya lembut. Aku menatapnya sekali lagi. Memberi perhatianku pada raut wajahnya yang halus dan memerah tersengat matahari. Lalu turun ke bibirnya yang tersenyum dengan tenang.

“Hanya satu kali summer dan satu kali autumn, masa bisa sekangen itu?” Godanya. Kupukul lengannya yang berlapis t-shirt putih. Pastilah saat ini wajahku telah memerah jua, dia tahu betul aku paling tidak bisa menutupi perasaan. Rona-rona merah jambu akan menyembul di pipiku yang penuh, khas wajah Indonesia yang menjadi favoritnya.

“Pokoknya oleh-olehku jangan sampai lupa, haigh chocolate. Awas kalau lupa!” Rengekku sambil. Pelan ditangkapnya kepalan tanganku dan menggenggamnya. Dave menatapku begitu dalam, begitu lama....Hingga, dilepasnya genggaman tangganya dan bergegas menyuguhkan sebaris senyumnya yang selalu indah.

Terpatah sudah apa yang ingin aku katakan, aku lupa pada setiap kata itu. Entah kemana menghilang semua kata yang ingin aku sampaikan ketika akan menemuinya. Semua jadi gamang, lenyap, membisu. Seperti Dave yang dengan tenangnya tak bersuara, membiarkan aku dan dirinya tenggelam dalam bisu yang biru.

Kuperhatikan saja geraknya membenahi kopor yang terletak di atas tempat tidurnya, tiket dan syal cokelat muda pemberianku yang mungkin bisa menghangatkannya di malam-malam dingin di Adelaide. Sesekali dia melihatku dan melempar senyum, kadang mengedipkan matanya dan menyambung senyum. Tak ada yang bisa aku lakukan, mencoba membantu sepertinya tak ada gunanya, untuk Dave yang begitu terencana.

“Hmm, lapar!” Dave memegang perutnya seraya membanting tubuh ke sofa.

“Hmm, makan mie instant sepertinya asik...”

“Ya, udah masak gih...Aku juga mau...” Kataku memamerkan sebaris gigi. Dave jadi cembetut. Sebetulnya aku sudah tahu, sebentar lagi dia akan merengek minta dibuatkan.

“Tapi, harus mi sop, seperti dulu, dengan bumbu dan rasa yang sama. Persis seperti sepuluh tahun lalu di Adelaide”

“Hah?”

“Masak nggak ingat?” ucapnya penasaran.

“Kapan ya?” Kukerutkan keningku. Hei, aku suka melihatnya sebel.

“Selepas pulang dari kampus dan berpura-pura salju turun padahal itu masih summer yang luar biasa panas dan kita kegerahan melewati jalanan mendaki? Kamu ingat tidak?”

“Lalu, apa hubungannya dengan mi sop?”

“Hmm, benar-benar lupa, ya?” Aku mengangguk.

“Sampai di rumah, kamu masak mie sop yang enak banget!”

“Oh ya?” Kataku pura-pura mengingat.

“Masak sih kamu lupa momen seperti itu?”

“Memangnya penting, ya?”

“Ya, pasti...Itu, kan pertama kali kamu masak buat aku...”

“Ooo” Kubuang pandangku sambil mengulum senyum. Tentu saja aku masih ingat, selamanya ingat.

Tiga kali pergantian setiap musim di Australia, di kota kecil bernama Adelaide, aku dan Dave pernah menyusuri jalan kecil berbukit, berjalan kaki selama dua puluh menit pulang dari Flinders University....... Mencari buku dan mempersiapkan presentasi. Merasakan kantuk saat masih harus bergadang menyusun tesis di akhir semester kuliah. Aku tinggal tepat di seberang rumahnya.

Dave warga negeri kangguru itu, namun sebagian darah di tubuhnya asli Jawa, dia bahkan fasih berbahasa Jawa, yang bak mata kuliah wajib bagi neneknya yang masih kental dengan adat-istiadat. Sahabat sejati. Itulah janji kami waktu itu, hingga degup-degup itu terasa, mengalir melewati bilur jiwa dan hati, menamatkan janji semusim. Di sebuah malam culture dinner, saat berdansa dengannya, pertama kali keningku disinggahi hangat kecupnya.

“Hei, kenapa melamun?”

“Siapa yang melamun?”

“Kamu..”

Aku menggeleng saja.

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Tidak ada”

“Dengar, ya...Aku sangat mengenalmu, you can’t lie..., apalagi padaku. Karena hidung pinokio ini!” Ditariknya hidungku yang muncul pas-pasan.

“Auuucchh!” Teriakku, diikuti gelak tawanya.

“Ayo, aku ingin mie....”

“Oke...Oke...”

Tubuhku berhambur menjauh dari sisinya. Memotong bawang sambil menangis, mengiris tomat sambil sesekali mengiris kuku sendiri tanpa sengaja, terakhir, membujuk Dave untuk memanaskan air. Aku tidak suka masak, entahlah apa yang akan terjadi jika jodohku adalah tipikal orang yang mewajibkan istri untuk memasak setiap hari. Sementara, aku alergi bumbu, alat-alat dapur selalu menyisakan luka di jari-jariku. Rahasia yang hanya Dave yang tahu. Hmm, coba saja nanti kalau aku menikah dengannya, aku tak perlu memasak seumur hidup karena Dave jago masak, kecuali kalau aku ingin. Dan, setiap masakanku adalah yang spesial baginya..., karena dia yang paling tahu pengorbananku di dapur. Hmmm....menghayalkan semua itu, alangkah bahagia.

Tamat kuliah, aku kembali ke Indonesia. Lulus pegawai negeri dan bekerja di sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan. Dave tidak pernah lupa mengirimi aku kartu bergambar bunga matahari yang datang setiap bulan. Dia selalu mengatakan mataku bersinar seperti matahari. Sebuah alasan yang sangat merayu...

Hmmm,..sebenarnya, kurangkah semua sinyal cinta itu? Namun tetap saja, aku tak pernah bisa seratus persen mengikatnya dalam kenyamanan perasaan. Aku selalu terjebak dalam kegalauan juga ketidakpastian. Cinta yang tak terucap. Dia selalu datang dan pergi, bagai matahari yang muncul di balik awan pegunungan dan tenggelam di tenangnya permukaan laut. Guratan kehadirannya hanya bisa terjamah dengan selembar tiket Jakarta –Australia.

Hingga suatu hari, Dave tiba-tiba muncul di depanku dengan tiga kopor besar, tersenyum dengan lebarnya. Dia akan menetap di Indonesia, melakukan peninjauan alam bawah laut untuk proyek konservasi alam bawah laut. Tapi, itu sudah tiga tahun yang lalu. Tak ada yang terjadi di antara ku dan dia, meski aku tahu dia tidak bersama orang lain, tapi dia pun tidak bersamaku.

Apakah benar cinta harus terkatakan? Dan, salahkah bila mendambakan cinta yang entah butuh perkataan atau tidak itu berlabuh dengan pasti lewat guratan namanya pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis? Tapi, keberanian itu tak pernah muncul pecah lewat kata-kata. Setidaknya labuhan pertanyaan akan kelanjutan kasih sayang yang sepertinya semakin tak berujung ini.

Dan, besok, dengan kapal cepat pertama di pagi hari, dia harus segera menggusur langkah. Tiba di jakarta dan kembali terbang ke Adelaide. Kenyataan itu meruntuhkan segenap harapanku, bahkan untuk sekadar bertanya.

“Enak?” Tanyaku sembari memperhatikannya melahap mie sop buatanku.

“Nggak gosong! Nggak asik!” Mulutnya manyun. Kucubit gemas pangkal lengannya. Dia hanya menyeringai. Dia masih saja terus meledek mie sop ku yang hangus sepuluh tahun lalu? Ah, lihatlah caranya menghirup kuah pedas itu, sungguh lucu sekali.

“Kenapa melihati aku seperti itu? Aku jadi tidak selera makan, jadi ingin memandangmu juga...” Senyumku semakin lebar. Bagaimana bisa memindahkan pandang dari bangir hidung blasterannya, juga cokelat rambutnya.

“Pasti ada yang kamu pikirkan.., benar, kan?” Tanyanya.

“Kamu pikir bisa bohong dari aku?”

“Hanya sedang memikirkan, akan kulabuhkan kemana rasa kangenku saat kamu pergi?”

Tak ada tanda-tanda kegugupan, Dave tahu betul bahwa aku pasti kangen padanya. Dengan santai dia tersenyum.

“Kamu tidak akan kangen padaku....,”ujarnya dengan mantap. Keningku berkerut. Dihembusnya jempolnya dan mengusapkannya pelan di antara kedua alisku.

“Ssssst, jangan mengernyitkan kening begitu, jadi mirip Mbah!” Kami tertawa. Namun, perasaanku tetap bermain. Mengapa dia bilang, aku tak kan kangen? Waktu satu tahun akan menjadi penghalau mata ini memandang wujudnya. Merintangi wajah ini untuk menyentuh tatapannya. Segalanya dapat terjadi. Segalanya dapat berubah.

“Mbah lagi apa ya? Kok jadi kangen?” Tanyaku. Ingat pada neneknya yang tak pernah melepaskan batik solo dari penampilan sehari-harinya yang bersahaja namun karismatik, sebuah bakat yang juga muncul di diri cucunya. Ah, Mbah...aku jadi ingat, suatu kali aku pernah minum teh bersama Mbah, kami asyik membahas tentang bunga anggrek kesukaannya yang juga favoritku. Kami suka berbincang di halaman belakang rumah, duduk di kursi rotan yang jadi terlihat sangat kontras dengan meja kecil jenjang marmer yang elegan.

Mbah sangat suka anggrek berwarna violet, apapun jenisnya, dia sangat mengagumi warna itu. Menurutnya, warna itu menggambarkan keceriaan dan kekaleman pada saat bersamaan, sedangkan anggrek ungu itu pencemburu dan penyedih...Hmm, komentarnya terhadap warna anggrek acuan mataku.

“Tapi anggun dan mempesona....” Sambung Mbah, dan aku tersenyum malu, seakan itu adalah pujian Mbah untukku, bukan anggrek unguku.

“Apa Mbah masih saja menyuruhmu melamarku?” Godaku, Dave malah tertawa terbahak-bahak.

“Terakhir ketemu Mbah, aku disuruh untuk tidak pulang lagi ke sana, kecuali ada cincin di jariku!”

“Lho, kok Mbah aneh, sih? Mestinya laki-laki yang memasangkan cincin!”

“Entah itu, Mbah. Aku juga bilang begitu. Tapi sepertinya Mbah mulai tidak percaya kalau suatu saat aku akan melamar anak orang, mungkin akulah yang harus dilamar. Hahaha...”

Aku jadi ikut tertawa bersamanya, dalam dingin getir yang berhembus. Benar juga, berapa lama mengenalnya, satu-satunya perempuan yang dekat dengannya hanya aku. Jadi, wajar Mbah semakin gelisah melihat tingkah cucunya yang satu ini yang sepertinya takut dengan perempuan lain tapi tidak juga melamarku. Entah itu berkah buatku atau malah musibah, karena tak ada juga laki-laki yang berani dekat denganku dengan adanya dia yang selalu di sampingku.

“Jadi, besok tidak bisa mengantarku?”

Aku menggeleng.

“Sampai pelabuhan pun?”

Aku masih menggeleng.

“Ada meeting pagi seperti biasa”

Dave mengangguk-angguk.

“Tidak apa-apa, kan? Kalau kamu balik nanti, aku jemput di bandara” Aku benci lambaian tangan, tapi damba menunggu pelukannya di koridor bandara.

“Setahun lagi...” kataku miris.

“Hei, apa maksudmu?” Tanya Dave.

“Maksud yang mana?”

“Dengan nada seperti itu? Setahun lagi?”

“Ya, setahun lagi! Benar, kan?”

“Tapi, nada suaramu....”

“Kenapa dengan nada suaraku?”

Dave mendengus pelan. Sekarang, seharusnya aku yang bertanya, ada apa dengan dia? Ada apa dengan perasaannya terhadap nada suaraku. Mengapa dia berpikir seperti itu? Bukankah, seharusnya aku yang mempertanyakan mengapa dia bertanya...?

“Setahun lagi, menjemputmu di Bandara, lalu memulai lagi denganmu, beberapa bulan kemudian, kau akan pergi, dan aku kembali menunggu untuk menjemputmu....Berapa kali lagi?”

Dave terlihat bingung. Dia bingung, ini pertanyaan tentang pekerjaannya atau tentang hatinya. Ah, Dave.... Memutuskan apa yang kau pikirkan pun, tak mampu.

“Kamu mulai lagi....Tentang hubungan kita...” Ucapnya pelan.

“Kamu pikir tentang apa, Dave?” nada suaraku tidak lagi meninggi seperti tiga atau empat tahun lalu, ketika dengan santainya dia bertanya mengapa aku menunggu. Tentang apakah semua ini? Tanyanya waktu itu yang membuatku meledak. Aku marah. Dan, merasa cukup berhak untuk marah. Karena aku mencintaimu! Itu ucapanku waktu itu. Aku tak percaya, jika detik ini dia kembali bertanya. Sungguh, tidak adakah dia bermain rasa dengan apa yang aku rasakan?

“Aku tidak tau, apakah kita akan bicara lagi seperti dulu?”

“Menurutmu?” Aku balik bertanya.

“Dave, aku tak ingin menunggu setahun lagi, atau sedetik lagi, untuk sebuah kesia-siaan” potongku, dia terlihat kaget.

“Sia-sia?”

Kuangkat bahuku. Aku bisa bilang apa. Hampir sepuluh tahun dalam hubungan tanpa status dengannya. Ah, apakah ini persoalan status? Hanya setipis itu? Sebuah status? Pentingkah? Mengapa pikiranku kembali dibaluri pertanyaan-pertanyaan itu? Dan, mengapa harus merasa bersalah, jika memang itu yang aku ingin untuk aku tahu?

“Adakah orang lain?” Tanyanya. Membuatku tersenyum, sungguh aneh.

“Hanya ada aku dan kamu!” Tunjukku ke dadanya.

“Kamu bosan dengan aku?” Tanyanya lagi. Kali ini aku nyaris tertawa.

“Bulan depan, satu angka lagi bertambah untuk usiamu, tiga belas hari kemudian, aku menyusul. Kamu tahu apa yang ingin aku dengar selama hampir 10 tahun? Kata-kata, kamu cinta aku...” kataku.

Dave terbata. Kuriaki dalam matanya yang biasanya terasa hangat, namun detik ini begitu kering dan gersang.

“Katakan, sekali saja, kamu cinta aku!” kutunggu jawabnya, tapi hanya matanya yang menyapu pandang ke sudut daguku.

See, it’s truly wasting time........” kataku setelah bermenit kemudian.

“Jika itu saja, tidak bisa kamu ucapkan, bagaimana bisa aku bermimpi tentang hal lain?” kutundukkan wajahku. Menyegerakan diri pamit dari bingkai tatapannya.

***

Langit terang kembali berdiri dengan tegak. Setelah milyaran bintang semalam hilang cahaya. Riak ombak terdengar nyaring dalam ruangan rapat kantorku, sesaat setelah pertemuan staff selesai, dan aku menyisakan sosok di depan sebuah jendela kaca, memandang laut lepas yang hanya beberapa meter jarak di depan langkah.

Pelan air mataku menetes. Sungguh rumit, bahkan untuk memilih di antara pilihan yang kubuat sendiri. Melindungi hati menjadi begitu naif, ketika yang kudapati justru hatiku yang berontak, melawan pikiranku. Hatiku kangen padanya. Hatiku tidak ingin lepas mencintai, bahkan ketika mulutku berkata, aku telah berhenti! Sepuluh tahun kurasa cukup untuk hanya menanti sebuah kata cinta. Dan, yang membuatku sakit hati, ternyata waktu selama itu pun masih belum bisa membuatnya menyakinkan apa yang dirasakannya terhadap aku dan dia.

Puluhan kilometer di seberang, pelabuhan kecil telah begitu ramai dengan penumpang kapal cepat yang bertaburan dengan pikiran mereka masing-masing. Mungkin, tentang rindu pada pekerjaan atau pada rumah dengan segenap kehangatan di sebuah seberang yang lain.

Telepon genggamku bergetar. Dave mengirimku sms? Sebuah tas dokumen yang seharusnya dibawanya, tertinggal di kamar, dan aku harus mengambil dan mengantarnya ke pelabuhan? Kepalaku mendadak pusing tujuh keliling, aku menahan cemas. Seorang Dave bisa seceroboh ini? Meninggalkan dokumen dan sampel yang menjadi alasannya untuk kembali ke Adeilaide? Ah.... Aku tiba di rumahnya, insting mengambil kunci di bawah pot bunga anyelir. Tas yang dimaksud terletak dengan meringis di sudut ruangan, pasti dia tertinggal karena bentuknya yang lumayan mungil. Kuraih dan setengah berlari menuju mobil dan beranjak dari sana.

Tapi, kapal cepat itu sudah berangkat. Beberapa meter saja di depanku. Aku meloncat di tempat, berteriak memanggil namanya dengan bingung, hingga akhirnya menyerah. Aku terduduk di kursi tunggu pelabuhan, dengan gontai menopang kepala. Melepaskan tas mungil itu hingga menyentuh sepatuku. Kutelengkupkan muka dan mulai menangis penuh kesedihan. Seolah tas yang tertinggal ini adalah hatiku. Tertinggal begitu jauh dan dengan begitu tak penting. Mengapa dia bisa seceroboh ini? Meninggalkan tas dan hatiku demikian rupa? Seakan dia tak pernah tahu apa yang penting dan tidak untuk dirinya. Apa gunanya membawa semua kopor berisi baju, dan playstation kesayangannya, sedang hal yang paling penting tertinggal di sudut ruangan seperti itu? Apa gunanya hidup begitu bahagia, dengan segala senyum itu jika dia melupakan bahwa akulah yang membuatnya bahagia? Melengkapi sebelah hatinya hingga penuh terisi cinta yang dia tidak mengakuinya?

“Dave yang bodoh.....” gumamku.

Bahuku dihuyung dengan pelan. Aku baru menyadari seseorang telah duduk di sampingku.

“”Kamu?” Tak percaya pada apa yang kulihat. Dave....

“Aku tidak mungkin pergi tanpa ini....” Ucapnya seraya meraih tas dari lantai ke pangkuannya. Aku mengangguk.

“Maaf, aku terlambat...Kalau saja, aku bisa menyetir lebih cepat. Siang nanti masih ada kapal cepat, sudah tunda tiket pesawat?” Tanyaku. Dave mengangguk.

“Ok, aku pergi, masih harus ke kantor,” Aku beranjak, tanpa melihat padanya. Walau sekilas pun lagi.

“Karin,” Aku menoleh, menghentikan langkah.

“Dari kecil, aku takut pada laut bahkan hanya dengan suaranya, tapi karena kamu mencintai laut, aku belajar menyukainya. Aku kuliah kelautan karenamu. Kamu tidak pernah tau, kan?” ucap Dave.

“Di Adelaide, ketika pertama kali aku tahu, kamu alergi bumbu, sebulan penuh aku habiskan waktu untuk belajar masakan kesukaanmu, hanya agar kamu kagum padaku, yang ternyata bermanfaat untuk mengobati homesickmu. Kamu belum lagi tahu, kan?”

Aku terperangah.

“Aku tidak mengerti, mengapa aku bisa begitu jauh berubah hanya dengan hadirmu dalam kehidupanku. Aku bingung, ketika aku tidak lagi suka kopi, aku berhenti merokok, aku jadi ikut-ikutan menangis menonton drama korea bersamamu, dan aku bisa menyelam setelah belasan tahun aku membenci laut, semua karenamu.”

“Hingga akhirnya, aku tiba di titik dimana aku tidak bisa membedakan lagi, siapa diriku dan siapa dirimu. Karena aku dan kamu terlihat sama, seperti pada satu tubuh, dan aku lupa, apa yang sesungguhnya aku sukai, dan apa yang aku benci.” Dave berhenti di situ. Matanya berlinang, suaranya gemetar, dan untuk pertama kalinya diangkatnya wajahnya yang memerah menatap wajahku.

“Aku mencintaimu.....” Air matanya menetes, melumerkan sebungkah rasa di hatiku yang tidak aku mengerti. Aku tidak bergeming, bukan karena tak ingin, tapi lantaran tidak mampu. Apa yang aku dengar terasa nyaring dan gaib. Menempuh perjalanan surut sepuluh tahun ke belakang. Dan kembali lagi sekelebat dalam suasana ini.

“Aku membuatmu kehilangan dirimu, aku sungguh tidak sengaja. Aku tidak ingin kamu seperti ini. Seandainya aku tahu kamu tidak suka apa yang kini kamu cintai, aku sungguh tidak sengaja....,” Aku kembali menangis.

“Aku telah menyakitimu....” kataku terbata. Dave mengangguk.

“Kamu menyakitiku hanya satu kali itu, dengan mempertanyakan cintaku. Dan, aku begitu bodoh, karena tidak menjawabnya.”

Aku dan Dave saling tatap. Dia masih duduk sambil menengadahkan wajah, sedang aku masih berdiri, menempatkan wajah penuh dalam matanya.

“Kamu tau? Tas ini tertinggal, karena semalam, aku kembali membongkarnya. Aku ingat, tiga tahun lalu, ketika aku tiba pertama kali di pulau ini, itu untuk bertemu denganmu, dan hanya karena alasan menemuimu. Kusimpan dua cincin di salah satu sakunya. Dan, kamu tahu, semalam, ternyata masih ada......,” Dave tersenyum dengan mata yang masih berair. Lalu meraih dua tanganku dalam erat genggamnya.

“Kamu mau lihat?”

Aku mengangguk dan tersenyum.

“Tapi, kamu mau janji?”

“Janji apa?” Dave diam sejenak.

“Memiliku selamanya..” Ucapnya syahdu. Aku memandang dalam mata yang kembali penuh berarir, dengan tenang mengimitasi lekuk senyumnya. Beku bibir meretakkan kegalauan yang berumur bak ratusan abad, menyisakan debar dalam ruang kelegaan. Kali ini, sebelum sempat aku mengangguk, dengan pelan diraihnya pundakku, menenggelamkan kepalaku, menemui hangat peluk, sehangat summer dan autumn, di sepanjang musim............

=seperempat dari seratus April=

Menunggu Pagi

Aku memulainya dengan selamat pagi, dan matanya mengerjap, selamat pagi juga bungaku…dan, sejak saat itu, aku jadi bunga kecilnya yang terselip di sudut hatinya. Hmm, mungkin yang paling sudut, atau di tempat yang paling tidak bisa dideteksi masa…

Setiap pagi aku habiskan untuk menunggu baris-baris smsnya. Tapi, seperti biasanya juga, sms itu tidak pernah sampai, saat aku tidak tahan lagi dan mengirimkan rinduku dengan sepatah kata..selamat pagi…….

Demikian setiap paginya, aku terbiasa bangun dengan harapan pagi ini, dia akan ingat padaku, seperti setiap paginya aku teringat padanya….pada setiap pagi yang dingin, yang membasuh wajahku dengan kerinduan akan sapanya….kata orang, kau akan tau sejauh mana cinta seseorang padamu bukan dengan ucapan selamat malam, tapi, selamat pagi. Ketika engkau menerima sapaan ini, maka engkaulah yang diingatnya setiap matanya terbuka….bukankah itu sangat indah? Aku tersenyum, ya, seperti aku ingat padanya setiap kali mataku terbuka di pagi hari…dan terus berkata, yap, aku telah lewatkan satu malam dan semakin cepat hari berganti sampai aku kembali dapat melihat dirinya…..

Kukayuh sepeda mungilku yang jenjang. Dengan sebatang anggrek didalam pot mungil berisi arang dan sabut. Tersenyum kecil melihat batangnya yang rapuh berayun ke kanan dan ke kiri lantaran terbawa kayuhan sepedaku yang kian cepat. Berbelok di tikungan yang landai dan sampailah di depan rumahku…

Kuraih anggrek itu dari dalam keranjang sepeda, batangnya meliuk kian keras seakan masih ingin berada di sana. Aku letakkan dia bergantungan di batang pohon yang nyaris tak berdaun termakan panas matahari. Kelak, ketika musim hujan datang lagi, pohon ini akan kembali rimbun dan cukup teduh untuk menaungi batang anggrekku yang akan berbunga.

Kutunggu sampai pot mungil itu tidak lagi bergerak bersama kawat tembaga keperakan itu. Kusembunyikan sedikit letaknya agar tak terlalu berpapasan dengan matahari. Ketika semua terlihat telah begitu sempurna, aku tersenyum puas.

***

Masa liburanku begitu menyenangkan. Mami membuat makanan kesukaanku setiap hari, mie rebus yang hanya terasa lezat dengan resep mami. Ayah sibuk memikirkan kesehatan si anak manjanya, sibuk bertanya apa yang aku butuhkan? Obat demam atau cukup obat batuk generic saja dan membuat rencana untuk menemaniku check up. Adik perempuanku sibuk dengan cerita-ceritanya dan rencana untuk jalan-jalan mengitari kota kecil ini, membuatkan daftar tempat makan enak yang pasti akan kami kunjungi. Dan si bungsu yang mulai berjerawat dan menikmati suara ABG nya yang mulai pecah. Kesibukanku dengannya adalah saling mencet jerawat. Aku begitu mencintai mereka!

Dan yang paling membuat bahagia adalah rumah baru kami. Rumah ini akan jadi tempat yang paling kutunggu untuk aku kunjungi di setiap kesempatan untuk liburan. Khususnya untuk melihat wajah-wajah terbaik sepanjang masa. Dan lima belas batang anggrek yang bergantungan di pohon depan rumah yang kuharap dapat kulihat bunganya ketika aku pulang kembali suatu kali nanti.

“yang mana yang akan berwarna scarlet ya?” Lova mengerenyitkan keningnya.

“mungkin yang di sudut itu” tunjuk Abel.

“dari sisi mana membedakannya?”

‘feeling saja, karena dia yang paling jelek, seperti kakak” abel tertawa dan mengeliat menerima cubitan lova. Kami tertawa.

Ya, siapa yang bisa tau, batang yang mana yang akan berwarna merah terang, scarlet, ungu atau putih belang…semua terlihat sama. Harapan untuk melihat warna-warna itu, hanya setipis percaya pada apa yang dikatakan si penjual bunga di pasar. Tapi, kita tetap membelinya toh?

Hmm, sama seperti cinta….datang dan memberi harapan, meski tidak tahu harapan itu akan berujung seperti apa, tapi, bukankah debaran dalam menunggu itu yang ditunggu setiap orang? Ya, menunggu akan warna yang muncul dari satu cinta itu…

“dan, aku tau yang mana yang akan berwarna ungu..!”

“Oya?”

“Ya, yang itu!”

“gimana bisa tau?”

“Karena terlihat bandel seperti kakak!”

aku tertawa. Ya, salah satu filosofi anggrek adalah tegar…mungkin sedikit terplesetkan saja dari kata bandel…, hmm….

***

Seminggu berlalu dengan cepat, besok malam harus kembali mulai mengepak barang untuk pulang. Banyak kerjaan menunggu di sebuah kota yang bermakna hati. Aku akan kembali pulang. Karena rumah untuk hatiku masih di sana. Kuliahku, pekerjaanku dan sepenggal hati yang masih menunggu untuk berwarna. Pulang dan pergi sama menariknya untukku. Karena kata itu tak pernah terlalu berbeda. Pulang dapat berarti di kota kecil ini pada keluargaku dan pulang juga yang dapat berarti menuju kembali pada yang belum akan selesai. Hidupku di sana.

“mami takut dia belum cukup tegar untuk kembali kesana sendirian, yah”

mendengarnya membuatku terenyuh. Tak ingin berlama-lama mendengar, aku telah berdiri di hadapan mami. Wanita terhebat sepanjang sejarah hidupku.

“mami, aku anakmu yang paling manja, tapi aku juga yang paling keras kepala. Mami tau itu, kan? Jadi, percayalah, Aku akan baik-baik saja, mam. Setiap jalan ini telah kupilih, sekarang saatnya memberi kesempatan aku untuk sembuh dengan cara yang benar. Mami, aku ingin sembuh sendiri, dengan dunia yang mungkin akan amat pahit saat ini, tapi mam, aku akan bisa bertahan, aku punya hati sama seperti yang mami punya, jadi aku akan baik-baik saja”

mami tersenyum. Didekapnya aku dengan kuat, begitu lama. Hingga air mata kami sama-sama menggenang.

***

Akhirnya aku benar-benar akan pergi atau pulang…

Dengan bus yang dipenuhi asap rokok, yang membuatku terbatuk-batuk dan menahan geram. Dengan hujan yang tiba-tiba turun dan AC bus yang bocor dan tidak bisa kumatikan. Di dalam jaket jeansku aku memeluk lenganku sendiri. Mencoba tertidur.

Ketika kuijinkan semua anggota keluarga pindah, aku masih memiliki seseorang dan merasa sangat siap untuk memulai sesuatu yang baru dan hidup. Terhipnotis dengan dunia baru yang melindungiku dengan cinta dan hal-hal baru yang begitu excited! Mencintai seseorang dengan sebuah komitmen pada keabadian. Seluruh kebahagian yang dibayangkan orang sedunia bertaburan memenuhi duniaku yang membuat iri tiap pasang mata. Seorang laki-laki yang tampak begitu mencintaiku, pekerjaan baru yang menyenangkan, skripsi yang menunggu ACC dan teman-teman yang penuh keceriaan. Saat-saat itulah, saat sebuah luka tidak dapat lagi terobati dan hati berubah dingin. Meredupkan jalan-jalanku yang biasa berwarna, soulmate yang menjadi seonggok daging tak berhati. Menohok dadaku begitu dalam, meruntuhkan rasa percaya diriku dan harapan-harapan yang hanya tinggal menunggu sentuhan warna terakhir. Ini yang harus aku hadapi. Dan, kini aku harus kembali, menunggu waktu membuat keadaan membaik dan menemukan kembali warna yang hilang atau menikmati warna yang ada.

Aku sudah melewati jalan panjang, tidak mungkin kembali dan tidak pernah ingin mengulang. Dalam pencarian terhadap batas-batas keindahan yang terkadang begitu naïf dan semu. Aku masih begitu muda, dunia ini belum pula terlalu tua untuk tidak bisa tersenyum. Tentu saja dia masih bisa.

Optimisme itu terus mengalir dalam denyut jantungku. Sebuah warisan keluarga akan wujud ketegaran. Maka, ketika pagi ini aku terbangun, aku berhenti meng sms seseorang itu, aku biarkan dia merindukan aku. Hmm, benarkah? Hmm, tidak tau juga, mungkin, salah satu langkah proteksi hati. Tapi, kelak jika aku jatuh cinta kembali, aku ingin hati ini sudah siap menerima ketulusan. Bila saat ini masih luka, mungkin besok akan sembuh, atau mungkin besoknya lagi, atau berhari-hari dan berabad-abad lagi……..

Dengan mataku, senyumku dan jutaan sapaan yang terus mengalir dari mulutku, aku mengitari ruang-ruang kantorku yang sunyi dan lengang…..masa liburan yang belum berakhir dan sepi yang belum menghilang……wajah yang kutunggu belum muncul, hanya ruang mungil dan tuuts keyboard computer yang menyala hijau kuning…..dihadapkan pada dua pilihan, haruskah berpaling atau meneruskan langkah?

Kupilih yang kedua…….hingga kutemukan ungu jingga yang begitu indah di screen computer yang menyala….setangkai anggrek yang mekar penuh ,aku terhirup dengan hebatnya….kini tidak hanya di satu screen itu tapi di setiap langkah yang aku teruskan…..di setiap bagian ruangan dimana screen menyala tak berkedip…..

“sepertinya taman bungaku lebih cepat mekar daripada di tempatmu…”

aku menoleh pada suara indah itu,

“anggrekku tidak perlu menunggu musim hujan untuk mekar……” sambungnya lagi dengan senyum mengembang.

Dan, pagi itu adalah pagi paling indah dalam hidupku….

Kini, setiap pagi aku tidak lagi menunggu sms atau mengsms selamat pagi pada seseorang itu…..karena, sebuah kecupan akan selalu mendarat di pipiku dengan kata..”selamat pagi, cinta…..” dan mataku dengan manja terbuka, menyadari hari yang telah berganti, dengan matahari yang baru……

The only orchid

29’01’06

MANUSIA BODOH

Manusia bodoh. Mungkin salah satunya aku atau kamu, atau malah kita berdua? Kita yang sama-sama tidak bisa melihat sisi-sisi satu sama lain. Kamu yang berpikir kamu tahu, aku yang berpikir aku yang tahu. Aku yang sok mengerti dan kamu yang sok memaklumi. Kita sama-sama bingung. Sama-sama tidak biasa. Sama-sama berharap munculnya penjelasan. Entah apa yang terjadi pada kita.

Aku memandangmu dari sisiku. Semakin hari semakin penuh kekurangan. Semakin banyak curhat dan penjelasanku semakin kita saling menyalahkan. Kamu pun memandangku dari sisimu. Semakin cerewet dan perhitungan. Kita jadi diam. Diam dalam situasi yang membingungkan.

Haaaahh, seandainya kita tahu, yang kita perlu hanya saling mendengarkan tanpa terlibat dalam emosi dan pertengkaran. Tanpa sama-sama terlalu kaku menghadapi perdebatan yang membuat sama-sama mundur dari keinginan untuk mendengarkan. Mencari-cari celah untuk balik menyalahkan dan melupakan apa yang seharusnya dibahas dan diselesaikan.

Hah, bodohnya kita!

"kamu yang sok tau"

"aku memang tau!"

"Dengar, ya, aku tidak akan lagi merengek kepadamu. Kamu semakin besar kepala!"

"kepalaku memang besar! Berisi! Tidak seperti kamu, bodoh!"

"sok pintar, kosong"

"Egois!"

"jangan menyalahkan aku saja untuk situasi ini"

"kamu memang salah, lebih dulu cari penyakit. Aku bosan menjadi penengah untuk masalahmu sedangkan kamu, dimana kamu saat aku bergelut dengan masalahku?"

"Kamulah sumber masalah itu!"

Membuang pandang jauh surut ke belakang sama saja mencari masalah baru yang lama, lama yang baru. Pada intinya, yang membuat seru adalah urat leher yang menegang, jantung yang berdetak lebih cepat, adrenalin yang memuncak dan suara yang berubah parau lantaran menahan geram. Tolol!

"Kamu yang tolol! Terpengaruh orang, mudah sekalii Dengan embel-embel apa kamu terpancing?"

"Kebanyakan memang seperti itu, perempuan rata-rata penipu. Jadi apa salahku percaya pada omongan orang?"

"Dan mengabaikan kesaksianku?!"

"Yaaa, aku tidak tau!"

"Itulah sebabnya kubilang kamu tolol!"

"Hei, jaga mulutmu, kamu perempuan"

"Ya, perempuanmu! Mana yang lebih baik daripada kenyataan itu?"

"Penghinaanmu besar-besaran kepadaku, aku masih mengalah. Kau tau"

"Mengalahmu tidak lebih besar daripada kesabaranku! Kamu mengalah, aku yang menanggung bebanmu"

Hmm....

"Laki-laki harusnya lebih mampu menjaga kemampuannya untuk mempertahankan pendirian, tidak terpengaruh dengan sulutan orang lain"

"Tapi itulah kenyataan yang terus berputar di sekeliling kita”

"Tapi bukan kita, kan?"

"Siapa tau?!"

"Plak!"

Suara tamparan. Tapi bukan di pipi kiri atau kanan atau bagian mana pun.

"Ketololanmu menjadi-jadi. Berbaur dengan ketololanku yang masih mau mendengarkan ocehanmu."

Dalam dada ada histeria kemarahan luar biasa. Sepenuh kepalan hatiku menanggung dongkol kepadamu, tapi seperti biasa, tanpa ekspresi mimik, hanya suaraku yang terasa kian berat memarau nyaring. Hmm..., mengapa juga kepalan tinjuku yang menghantam sudut mulutmu hanya ada dalam hayalanku saja?

"Seharusnya aku sudah pergi darimu!"

"Jadi kenapa tidak?"

Dalam geram.

"Karena aku kasihan meninggalkanmu dalam ketololan!"

Hah, memandangmu, hanya semburat kebodohan yang konyol yang dapat kutangkap. Begitu nyata dan tidak mau raib. Aku terdiam. Menegakkan kepalaku yang berat dengan dongkol. Mengapa ada manusia senaif dan sepicik ini? Kamu tolol atau pura­-pura tolol?

Sebetulnya kita sama-sama lelah berbohong. Kita sama-sama ingin jujur mengatakan bahwa kita lelah bertengkar terus-menerus. Tapi lihatlah, kita begitu sibuk berkelit dan mempertahankan ego. Lebih-lebih kamu, mana pernah mau minta maaf untuk mendinginkan hatiku, mana mau mengaku salah padahal aku yakin hatimu kerap mengaku bahwa aku yang terbaik untuk kehidupanmu. Ketidakpercayaanmu yang konyol. Hah, lelahnya aku untuk meyakinkanmu terus-menerus... kerap aku merasa rugi, cerewetku bicara dan mulutku yang berbusa-busa menjelaskan kepadamu seperti angin lalu saja. Seiring sikap angin-anginanmu.

Entah apa yang kamu cari, entah apa yang kamu mau..dari aku dan keadaan ini. Kamu pun merasa bosan. Mukamu semakin layu tak berselera, menyandang berat pikiran yang menurutku kamu yang cari sendiri. Masalah tidak akan datang kalau tidak dicari. Ada penyesalan merona di wajahmu, setelah berjam jam kita membahasnya. Tidak tau siapa yang lebih dulu mengalah, yang pasti bukan aku. Begitu yang kamu tau, aku, tanpa segan-segan akan menghujanimu dengan kata-kata penuh duri. Yang tak punya ampun menohok tepat ke jantungmu, via telingamu. Itu menurutmu... hmm, aku, kan tinggal beli saja!(itu menurutku).

"Jadi maunya gimana?"

"terserah kamu"

"Nah, perkataan orang bodoh, tuh.."

"Hei, berhenti mengatakan aku bodoh"

“Tapi memang kamu bodoh"

"Maumu apa, sih?"

"Mengatakan kamu bodoh"

"TOLOL! !"

"T-O-L-O-L!"

"Dasar keras kepala!"

"Dasar Plin plan!"

"Egois!"

"Tak pernah mau mengalah!"

"Aku selalu mengalah!"

"Tapi diam saja.."

"Maumu apa?"'

"Kamu tidak lagi berpikir picik dan sempit. Yakini aku dari hatimu."

"Cuma itu?"

“Ya."

"Aku juga punya satu permintaan"

"Apa?"

"Jangan cepat buruk sangka kepadaku, aku tidak bermaksud menyinggungmu"

"Ok, bisa kumaklumi, asal kamu pun jaga bicara..."

"Ok"

"Ada lagi?"

"Cuma itu. Kamu?"

"Sama"

"Oya, ada satu lagi."

"Apa?"

"Jangan cerewet."

"Aku tidak cerewet!A ku bicara benar dan apa adanya, aku tidak akan membantah atau mengatakan apapun kalau kamu tidak mulai. Aku sangat benci kamu berpikir plin plan terhadap diriku, aku benci omongan-omonganmu yang ......”

"Nah, benar, kan, kamu cerewet, hmmm....."

Aku balik melihatmu. Mulutmu bersemi senyum, tapi pura-pura aku tak tahu... hmm, benar juga, aku cerewet SEKALI. . .

"Sudahlah, aku malas kita bertengkar terus... "

"Aku juga begitu."

"Sudah, akhiri saja..."

"Ya sudah terserah..."

Kamu bangkit dari kursimu di sebelahku. Aku merasa mati kutu. Rasanya ingin ikut pergi, mana mau aku tinggal sendiri. Gengsiku pula yang tak akur, akulah yang harus lebih dulu pergi sebelum kamu meninggalkanku.

"Mau ikut juga?"

"Ikut? Aku mau pulang.. . "

"O, jadi gitu?"

"Katamu kita akhiri... jadi kenapa harus berdebat lagi?"

Mataku mulai berkaca-kaca mengikuti muka mendungmu yang memerah.

"Duduk.."

"Kataku, aku mau pulang!"

"Kataku, kamu duduk!"

"Kenapa aku harus duduk sedang kamu pergi?"

"Aduuh, bodonya kamu.."

“hmm ... ?„

"Aku bilang, duduklah, aku mau pesan kopi..."

Aku melongo....

Wednesday, October 18, 2006

lili putihku

Dua pasang mata kutatapi hari ini
Pipinya yang halus, tangannya yang kokoh lembut
Ketegaran luar biasa kudapati
di tiap derai tawanya
sedang kerapuhan dan segala sifat manusiawi
luntur di gerai air matanya
dia sebuah inspirasi
akan ketulusan dan pikiran baik
dia sebuah imajinasi
akan kesempurnaan dan ketulusan

selamat ultah cantik
sadarilah betapa cantik 22 untukmu
hingga setahun ke depan dan selamanya
mungkin mawar merah bukan jabaran wujudmu
tapi lili putih adalah pesona gerak dan baktimu
lili putih cantik jelmaan malaikat kecilku
terdamba dalam setiap hati
(31 Oktober 2006)

Wednesday, October 11, 2006

hujan semusim

tidak bisa aku gapai,
apa yang telah pergi dan berlalu...
apa yang telah menggoreskan arti dengan setiap luka perih

aku berjalan dengan langkah yang kadang nyaris berlari
aku begitu ketakutan dan merasa begitu kuyuh...
aku sakit dan kecewa
aku hilang dan menghilang

dalam ruang jingga aku bertemu kembali dengan gadis 18 tahun
yang baru saja melepas seragam...
aku mempertanyakannya, berkenalan dengannya kembali..

namanya lugu dan ceria
alias bersahaja dan sedikit naif
culun wajahnya dalam balutan kepolosan...
tidak punya apa-apa
selain senyum di bibirnya
segala kebimbangan datang di malam-malam
dalam sunyi-sunyi
besoknya, dia kembali terbalut ceria
dalam balutan siluet putih abu-abu

aku tidak mengerti,
bagaimana mungkin aku tidak lagi mengenalnya?
pada senyum dan matanya yang membola?
pada lembut suara lirihnya yang bertanya dan menyapa
kenapa? kenapa aku harus berkenalan lagi dengannya
bukankah seharusnya aku adalah dirinya
dan dirinya selalu bersemayam dalam diriku?

kutapaki kembali jejak-jejak yang sama
kuselami lagi rangkaian kisah
berharap memoriku kembali padanya
dan dia dapat kembali kepadaku
agar bisa kupeluk dan kutempatkan kembali
dalam relung jiwaku di sedalam-dalamnya tempat.

tapi....
dia hanya berdiri di mukaku
dia hanya menatap kepadaku
sedang tanganku terlalu takut untuk mengulur
aku diam seribu bahasa
melihati gerai rambutnya yang kaku karna shampo murahan
dan kakinya yang terbalut kaus kaki berwarna putih...

aku menangis...
kesedihan menghalangiku menyentuhnya
aku takut melukai perasaan halusnya
dan membenamkan impiannya yang begitu sederhana

aku terus tenggelam dalam kebisuan
sedang matanya tak mengerjap menatapku
dia begitu ragu untuk merangkulku
meski hanya lewat tatapan mata

fokusku pada kesedihan itu
telah membuatku kehilangan dirinya untuk ke sekian kalinya
untuk sekian musim yang berganti
dan entah dia sudi kembali...

dan, aku terus menunggunya...
menyambut tanganku yang pasti akan mengulur
di akhir hujan semusim...

oct-11/2006

Tuesday, October 03, 2006

wajah milik cinta

Aku berlari mengejar robur sepatu, bus raksasa itu nyaris tak mau berhenti melewati halte simpang lima jalan raya. Kernetnya tersenyum-senyum menyambut tubuhku yang kelelahan mengejar lajunya. Sialan! Tapi, yang paling penting aku sudah berada di dalamnya. Aku berdiri di sisi jendela paling depan, di belakangku duduk anak-anak SMU yang baru pulang sekolah.
“Mau duduk, kak? Di sini aja.." Salah satu yang berwajah cukup kiyut menawarkan kursi dengan manisnya. Mungkin dia iba dengan butiran keringat yang bertengger di keningku.
Aku tersenyum dengan senyuman paling manisku.
“Memangnya nggak apa-apa kalo kamu berdiri?” kataku sok kuatir. Tapi, si kiyut malah nyengir.
"Maksudku di sini lo, Kak" tunjuknya ke pangkuannya. Berbarengan dengan gelak tawa teman-temannya. Kubuang mukaku jauh-jauh. Dasar anak jaman sekarang nggak ada sopan-sopannya.
Mungkin, Tuhan masih sayang padaku karena akhirnya aku turun juga dari bus itu. Bergegas aku melangkah menuju koridor kampus. Hari ini ruang kuliahku ada di lantai tiga. Tidak ada lift atau eskalator. Ya, ini kampusku, berapapun banyak tingkatnya hanya ada tangga yang berjejer menuju tujuan. Kutarik napasku dalam-dalam bersiap menapakinya satu­-satu. Aku ingat, dosen Elektronika Analog-ku menunggu untuk sebuah midtest tepat di pukul dua, dan itu hanya bersisa beberapa menit lagi. Ah, aku benci harus kelabakan seperti ini!. Kenapa juga kuterima mengajar double shift di bimbel yang sudah setengah tahun ini menyita waktu sampinganku?
“Hei, baru datang?” Ine menahanku di anak tangga terakhir. Mataku membelalak.
“Memangnya kenapa?” ,
Dia tertawa.
“Nes, midtestnya nggak jadi!'
“Apa?" kuhembus napasku kuat-kuat, Sial benar aku! Tapi kuteruskan juga langkahku menuju kelas, sementara yang lainnya beranjak bubar.
“Hei, baru datang?"Dandi menyapaku.
“Midtestnya nggak jadi betulan nih?”
“Siapa bilang? Khusus buat kamu, Pak Ramon udah nitip pertanyaan tadi sama aku"
“Oh ya? Apa tuh?”
“Nes, would you marry me?” Dandy terbahak. Dan masih tetap terbahak meski telah kugeplak kepalanya dengan gulungan kertas laporanku. Teman-temanku tidak pemah berubah, menjodoh-jodohkan aku, parahnya, selalu dengan dosen! Aku melenggang keluar kelas. Hei, mengapa luput wajah ini dari mataku sedari tadi?
“Hai!” sapaku riang. Aku biasa menyapa setiap orang dengan dengan sikap yang sama. Tapi, hanya dia yang membalasnya dengan begitu dingin.
“Ah, capeknya aku, Di! Sudah susah-susah berdesakan naik robur kemari, dosennya malah nggak masuk... Aduh, mestinya aku nggak perlu terburu-buru ngabur tadi selepas mengajar, kan, bisa makan as krim dulu, kek, cokelat, kek…”
“Memangnya, nggak ke kampus kemaren?"
Aku menggeleng.
"Enggak nanya ke teman-teman juga?”
Masih juga menggeleng.
"Memangnya ada apa?"
“Ya, pengumuman nggak jadi midtest itu udah dari kemaren. Dasar kebiasaanmu tuh.." Timpalnya, Pandangannya tetap saja cuek bebek. Dia sibuk berkutat dengan bukunya. Mulutku jadi manyun.
“Sistem Microprosesor....” gumamku, membaca judul buku yang sedang dilahap Diyar. Dia memang kutu buku sejati.
Tiba-tiba dia berhenti.
“laporan?” tanyanya sambil menunjuk lembaran kertas kwarto di map transparanku. “Yup!"
“Boleh aku liat?
"Ya, bolehlah..., kamu ini knapa jadi sungkan-sungkan begitu?" protesku. Tapi dia keburu sibuk mengamati laporanku, jadi, lagi – lagi kalimatku tidak digubrisnya.
“Eh, Di, tugas programmu udah selesai?" Dia menggangguk.
"aku liat ya?"
“Sama Ade”, jawabnya pendek.
“Kalo gitu kamu liat tugasku ini, bentar aja, udah bener belum?”
Diyar mengamati sejenak, matanya lurus menghadapi rangkaian flowchart milikku, selurus pandanganku merayapi setiap lekuk wajahnya. Cuma sekilas, ketika dia buru-buru menyadari perbuatanku.
“Ini, udah bener, kok” katanya seraya membuat pandanganku patah begitu saja. Lalu dia benar-benar akan kabur meninggalkanku.
“Di, mau kemana?” napasku ngos-ngosan mengejamya menuruni tangga.
“Ke kantin”
“Belum makan siang juga? Udah jam berapa nih? Kamu kok lalai begitu, kalau sakit gimana?”
Diyar tidak menjawab, saat itu aku sadar, aku sudah terlalu banyak bicara. Diyar sudah berubah, entah karena apa, aku tidak mengerti.
Diyar memesan nasi dengan ikan besar kesukaannya. Beberapa menit kemudian dia sudah asyik melahapnya. Disampingnya, aku pura-pura asyik juga dengan orange juice-ku. Tapi aku tidak tahan, meski sudah kukontrol diriku, tetap saja gagal, mataku tetap saja ingin mengarnati tingkahnya yang terasa demikian ganjil.
“Di, ada masalah?”
Dia Cuma melihatku sesaat.
“Aku tau masalahnya, Cuma sedang lapar, kan?” ledekku. bibirnya tersungging. “kamu kayaknya sakit, deh...” timpalku.
“Tuh, benar, kan, mukamu merah. Maag-mu kambuh? Atau, jangan jangan kamu merokok lagi? Kamu tau,kan, kerongkongan kamu tuh nggak mampu nahan nikotin.”
“aku nggak pa-pa"
“masa?”
“ iya”
“laporanmu kamu ketik dimana? Komputermu masih rusak, kan?”
Dia selalu begitu, tidak pemah langsung menjawab pertanyaanku, dia dengan sabamya lebih dulu memastikan kalau nasinya benar-benar sudah tertelan. Tapi, kali ini sesabar apapun aku menunggunya untuk menjawab pertanyaanku hanya akan sia-sia. Diyar tidak bersuara, dia menyelesaikan makannya dan bertingkah seolah dia benar-benar akan pergi.
"Di ada masalah apa, sih?" tanyaku mulai kesal. Eh, dia malah benar-benar beranjak dari kursi.
“Di..!” cekalku.
"Aku pusing mendengar pertanyaan-pertanyaanmu!” bentaknya sebelum benar-benar pergi. Meninggalkanku dengan mata membola tak percaya.
***
Dan, itu adalah hari terakhir aku bicara dengannya. Hari yang juga mestinya tidak pemah terjadi dalam kehidupanku. Sudah seminggu berlalu, aku masih juga meratapinya.
“Aku malu, De, dia membentakku begitu di kantin..” lirihku. Ade membelai kepalaku yang ada di pangkuannya. "Tapi aku juga marah..kok, tega dia begitu?”
“Udahlah, Ness, nggak usah diingat lagi.”
“Aku cuma perduli padanya, apa itu salah?” ratapku.
“Mungkin memang dia nggak peduli kepedulian orang lain. Kamu tau, kan, bahkan lebih tau dari aku, bagaimana sikapnya? Sedangkan sama teman-teman aja dia Cuma ngomong seperlunya. Aku juga kalo bener-bener butuh aja ngomong sama dia, belakangan dekat, kan lantaran satu kelompok praktikum, udah, gitu aja”
“Tapi dia biasanya nggak begitu sama aku”
”Dia lagi banyak pikiran barangkali"
“Dia bentak aku, De ...aku mesti gimana?" airmataku kembali mengalir. Benar-benar tidak bisa dibendung. Aku kembali sesegukan.
“Aku bilang juga apa, bersahabat jangan pake perasaan!” timpalnya.

***
Hari ini, keadaan agak membaik, selesai midtest yang ditunda, aku ke kantin sendirian. Memang sudah bakatku, sehabis ujian pasti lapar. Aku membeli dua potong donat jumbo dengan taburan cokelat dan keju lantas pulang jalan kaki menuju halte bus di ujung jalan kompleks kampus.
"Ness.." sapa seseorang dari arah samping kiriku.
“Hai, Di,” balasku bersemangat. Jangan tanyakan kenapa aku bisa seceria ini membalas sapaannya setelah kejadian seminggu lalu. Aku tidak pernah bisa memegang janji untuk marah padanya. Setiap kali amarahku berkobar, setiap kali itu pula dia muncul mengaburkan misi ini.
“Ini ada selebaran untuk seminar minggu depan..”
Hmm, dia sendiri bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“Oo, thanks!” aku menerima selembaran kertas tipis berwama oranye, di sana tertulis seminar dan pelatihan kemahasiswaan bidang teknik telekomunikasi. Aku pasti datang.
“Ning udah diajak?”
“Sudah” jawabnya pendek.
“Ness, sori ya, waktu itu aku bersikap gak enak”
" Ah, udahlah. Ngapain juga aku perduli, kamu mau bersikap cuek, gak perduli, atau apapun, toh aku bukan siapa-siapa.” Kataku. Sesaat, kami diam.
"iya aku tau, aku salah, tapi, benar, kamu kuatirkan aku?'
Oh, God, dia bertanya seperti itu, rasa haruku nyaris tumpah. Tapi, buru – buru kucubit tanganku sendiri, aku sudah cukup malu, jadi tidak ingin lebih malu lagi dengan menangis di depannya. Aku pura-pura tidak ingin mendengar.
“Mau donat?" kataku iseng. Mata kami beradu. Untuk kesekian kalinya aku menepisnya. Di tengah trotoar kami berhenti, hari sudah lumayan sore, jalanan mulai sepi.
"Kenapa?” tanyanya pelan .
“Apanya?”
"Matamu"
“Kenapa dengan mataku?”
"Kenapa tidak pernah balas menatap...” Diyar menggenggam kedua bahuku. Memaksa mataku hanya menuju satu, kedua matanya.
"Menatapi aku, seperti ini.." ditatapnya mataku.
Apa sebenarnya yang sedang diselidikinya dariku? Pertanyaanku menusuk rasa penasaranku yang tiba-tiba menguap. Kubalas tatapannya. Dunia untuk sesaat berhenti. Aku tidak bisa berkata-kata. Mulutku yang masih tersumpal dengan sisa donat, tidak bisa lagi menelan. Aku mati kutu. Semua peristiwa antara aku dan Diyar yang pemah terjadi kini berputar-putar dalam penggalan-penggalan yang berkelebat tak menentu. Diyar dan aku yang bahagia, Diyar dan aku yang belia, yang selalu bersama menghabiskan banyak waktu untuk apa saja. Diyar yang dingin dan tenang, aku yang ekspresif dan tidak terkendali. Diyar yang memberi warna dan kesempatan untuk mencintai.... Mencintai? Tiba-tiba ada rasa sakit yang dalam. Membuatku berpaling darinya. Kutepis tangannya juga dua bola matanya, dengan setengah berlari kutinggalkan dia! Sekelebat kenangan menyergapku.
"Diyar mengajakku jalan..." masih terngiang kata-kata Ning berbulan lalu. Di suatu hari di tengah kelas kuliahku. Saat telingaku harusnya mendengar materi kuliah, aku malah disumpali kata-kata konyol seperti itu. Tapi, benarkah itu hanya kata-kata konyol? Tidak, aku malah keluar kelas, bersembunyi di toilet kampus dan parahnya lagi, aku menangis.....
Aku melihat dengan jelas mata Ning yang mengeekspressikan rasa sukanya pada Diyar. Aku bisa membacanya, dan aku merasa demikian muak. Aku tau Ning sudah punya kekasih, tapi dia tetap menerima Diyar. Alangkah bodohnya Diyar, atau bodohnya cinta, dan aku kecewa ternyata Ning yang mampu membuatku melihat pelangi cinta di mata Diyar.
"Ness!" Kudengar teriakan Diyar. Aku baru mendengarnya berteriak kali itu. Tapi aku tidak ingin berhenti, aku ingin terus pergi dan menghilang.

***
Hari itu, aku benar-benar bisa menghilang darinya. Bahkan seminggu berikutnya, aku sibuk di laboratorium mengawasi jalannya praktikum adik-adik letingku. Aku tidak bertemu dengannya, tidak ingin bertemu.
"Kenapa?!" tiba-tiba, di suatu sore, di ruang praktikum yang lengang, Diyar sudah berdiri di depanku. Dia dengan pertanyaannya yang cuma sepatah itu.
“Aku nggak mengerti!"
“Kamu pura-pura nggak mengerti!”
“Aku memang nggak mengerti, kenapa kamu ada di sini? ”
“Aku yang lebih dulu bertanya. Kenapa?” tatapnya.
“Aku ingin berhenti melihatmu!”
“Kenapa?”
"Supaya tidak tersakiti” kataku baku.
“Aku menyakitimu? Dimana? Kapan? Di kantin, aku sudah minta maaf, aku salah..aku hanya …ah, bagaimana cara menjelaskannya, aku bingung…”
Diyar malah menggelengkan kepalanya.
“Kenapa mesti kuatirkan aku? Kenapa?”
“Aku nggak ngerti pertanyaanmu. Aku ini sahabatmu, kan? Benar aku sahabatmu, kan? SAHABAT?” Kesalku melunjak hingga ke tenggorokan. Napasku terasa sesak. Bodohnya, airmataku yang tidak kuundang datang malah ikut serta berlari di pipiku. Entah karena melihat itu, Diyar melunak. Dia terduduk di kursi praktikan, menatapi meja.
“Ness, aku baru aja ngomong dengan Ade tentang perasaanmu terhadap aku”
Oh, Tuhan, kepalaku tiba-tiba sakit.
“Kenapa menyelidiki aku begitu?!” Aku meledak di depannya.
“Ness, jangan buru-buru marah.” Diyar menggenggam pergelangan tanganku.
“Aku benar-benar minta maaf”
“maaf? Maaf untuk apa? Ade bilang apa? “
Diyar menggeleng.
“Apa?”
Diyar tidak menjawab. Kepalaku semakin sakit. Aku merasa malu. Begitu malu.
“Dengar, ya! Apapun yang pemah aku rasakan padamu, itu sudah berlalu, kamu jangan berpikir terlalu jauh! Kamu nggak lebih hebat dari siapapun di dunia ini, dan sekarang, kamu datang seperti ini, hanya mengobarkan kebencianku padamu.”
"Nessa..."
"Aku nggak ingin bicara lagi!" kuraih tasku berharap bisa segera menghilang. Tapi Diyar terus menahanku.
“Kalau kamu pergi terus, masalah kita ini tidak akan pemah selesai...”
“Aku nggak merasa ini masalah kita, ini masalah aku dengan diriku sendiri. Aku dibuat bodoh dengan perasaanku sendiri.”
“Ini semua karena Ning?” tanyanya. aku terkejut.
"Kamu tau aku dekat dengan Ning...." gumamnya.
“Yang aku tau kamu merayunya” tuduhku, sengaja untuk menyakitinya.
“Aku gak dekat dengannya karena iseng, aku memang suka dia…” hatiku mengguruh, perih. Aku tau, Diyar jujur.
“Dia sudah punya pacar” potongku. Berlagak tak mau memahami betapa bodohnya seseorang dapat bersikap untuk satu kata itu.
"Ya, aku salah, dia sudah punya pacar..."
“Lalu kamu patah hati? Sakit hati?”
“Aku akan lebih sakit hati lagi, kalau Nessa sahabatku bersikap jadi seperti ini…”
Kerutan di keningnya menandakan keseriusannya.
“Sudahlah, aku nggak perduli soal Ning..” aku menghela nafas.
“Kamu suka siapa pun, itu terserah, karena kamu gak pernah bilang ke aku, maka sakit hati itu, aku nggak mau ambil pusing, tapi, jangan buat aku merasa bersalah dengan perduli padamu…karena kita biasa saling perduli.”
“Iya, aku tau. Maafin aku ya…aku tau nessa yang hanya perduli padaku, kadang, semua terasa kabur, aku sangat sakit hati Ness…aku sangat berharap Ning akan selalu bisa memperhatikan aku sepertimu, tapi…”
“Tapi, aku bukan Ning..?”
Diyar menunduk.
”Seandainya, aku tau, kamu sedang mendekati Ning, aku gak akan sakit seperti ini, Diyar…”
“Maksudmu?”
“Sebagai sahabat, aku gak mengerti kenapa kamu gak pernah bilang soal Ning ke aku? Kamu buat aku berpikir, semua kedekatan kita selama ini punya arti yang lebih, dan aku merasa bodoh…”
Wajah Diyar menegang, dia menatapku dengan pandangan yang sangat lain. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Dia kelihatan sangat bingung, seakan seluruh isi pikirannya berbaur pada satu jalan di otaknya.
“Aku menikmati kedekatan kita Nessa, tidak ada hubungannya dengan Ning...”
“sebagai sahabat?” aku mulai mencari-cari hal yang belum bisa kupastikan di riak wajahnya yang memerah.
Diyar tidak mampu menjawab.
“Jadi aku dan Ning berbeda meski perlakuanmu sama? Maumu apa Diyar? Aku sebagai pengganti Ning?”
“Aku seperti itu, kepadamu?”tanyanya.
“Ya!'” ucapku.
"Kamu nggak sadar?!”
" Mungkin juga Karena perasaanku ke kamu yang ternyata lebih dari apa yang kamu harapkan, dan sikapmu itu membuat aku jadi terlalu banyak menduga, apa kamu mengerti?”, ketusku. Diyar menatap gamang. Saat kemudian aku dan Diyar duduk berdampingan, kami sama-sama diam, sama-sama tidak bersuara.
“kamu mencintai aku?”, kutatap matanya. Sekaligus menegaskan, bahwa aku mampu menatapnya meski lebih sering mengelak.
"Apa kamu cinta aku?” suaraku kembali sinis. Dia tidak dapat menjawabnya kuhembuskan napasku, berpaling dari wajahnya.
"Nggak masalah buatku, kamu mau merasakan apa terhadapku, kamu mau bersama orang lain, atau mengejar Ning, aku tidak perduli, aku hanya nggak ingin kamu membebani aku dengan kehadiranmu yang kadang berlebihan untuk sekadar seorang teman.”
“Ness..”
" Itu semua beban buat aku, Di..” potongku.
"Do you love me, Nessa?" Diyar menunjuk dadanya.
“Kamu kan sudah bertanya pada Ade, kenapa bertanya lagi?”
Diyar diam saja. Kini aku merasa sesuatu yang ganjil telah terjadi. Jangan-jangan...
“Aku memang bicara dengan Ade, soal aku yang tidak lagi mengerti tentang bagaimana kita, tapi Ade ggak pernah bilang kalau kamu...”
“Oh!” Pekikku tertahan di pangkal lidah. Kutundukkan wajahku, menyembunyikannya di dalam kedua telapak tanganku. Nafasku seakan terbang dan sepertinya hanya ada ruangan yang begitu kecilnya hingga membuatku terjepit di antaranya.
“Ya ampun...." aku terbata, kepalaku menelungkup ditutupi lengan ini. Diyar tidak juga bergeming.
“Knapa kamu membuat aku mengatakan hal bodoh ini?” rutukku.
“Sekarang harus bagaimana?”tanyaku untuk diriku sendiri.
“Memangnya kenapa? Lebih baik aku tau, kan?”
“Aku malu! Mau kutaruh di mana mukaku?" tanyaku dengan bodohnya. Entah kemana larinya rasa marah dan sedihku, entah kemana perginya harga diriku di depan Diyar, karena setelah tersudut begini, aku masih sempat mengadu padanya?
Aku menangis di depannya. Dirangkulnya wajahku. Beberapa menit dibiarkannya aku melepas tangis.
“Shhuuuhh…sudahlah, kenapa harus malu..ingat, kita selalu jujur, kan?” yakinnya.
“Aku ini sahabatmu Nessa”
Seketika aku terdiam, tangisku berhenti, aku kehilangan diri, sekarang tidak tahu lagi apa yang aku rasakan. Kata-kata itu menamparku telak.
Kutarik wajahku dari rasa nyaman sesaat itu. Aku berlari keluar ruang praktikum, menuruni tangga, terus berlari dan menghilang…

***
Aku berhenti menjadi sahabat Diyar. Dalam arti yang begitu naïf. Tidak menggubris teleponnya, tidak bicara dengannya, tidak melakukan kontak apapun. Kami hanya saling berpapasan mata di kampus, di jalan raya, kalau kebetulan berada di satu jalur yang sama. Dia melihatku, aku melihatnya, lalu buru-buru menghilang di kerumunan. Jelas, aku merasa kehilangan. Tidak ada lagi Diyar yang biasanya menungguku keluar kelas. Tidak ada lagi bangku di koridor kampus yang terisi oleh kami saat sibuk menyiapkan tugas. Aku dan Diyar menghilang dari peradaban kebersamaan kami.
Suatu kali kulihat dia dan Ning di lorong kelas. Bicara dengan sangat serius. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sekelebat mata mereka menangkapku, dan aku tak mampu mengelak. Ning lalu pergi, begitu juga Diyar.
Aku harus berusaha keras mencerna semua ini. Mulai menggali semua kenangan dan perasaan. Tentang kesungguhan dan keindahan. Sejak pertama bertemu, aku dan Diyar seakan terhipnotis untuk bersatu. Semua hal kami kerjakan berdua. Dia bagai pelindungku. Dia begitu baik, begitu tulus. Sesungguhnya, aku sudah mampu menebak jika suatu saat nanti perasaanku akan berubah menjadi lebih kepadanya. Tapi, aku selalu mungkir, aku selalu berpikir itu nanti, dan aku tak kan terpengaruh. Kalau saja Diyar tak pernah jatuh cinta pada Ning…
Mengingat mereka berdua di pertemuan waktu itu, hatiku sedikit lega. Setidaknya, nasipku tidak seperti Ning. aku tidak harus menanggung beban mencintai seseorang tapi tak bisa memiliki, ah, maksudku, toh Diyar tidak mencintai aku, jadi pada hakikatnya sakit hatiku ada pada level kedua, ketiga atau seterusnya. Tapi, bila kupikirkan persahabatan aku dan Diyar. Hatiku jadi miris. Aku tidak ingin kehilangan kebersamaan itu. Dan, di manakah level persahabatan itu? Aku tetap menyanjungnya lebih tinggi dari segalanya.
Tiga minggu berlalu, aku dengar Diyar sakit. Dia tidak masuk kampus. Di mana Ning? kenapa tidak perduli, ada kesal menyelusup. Mengingat Diyar sakit, aku sangat ingin menjenguknya, tapi mengingat rasa maluku, niatku jadi urung. Aku tetap tidak datang ketika Diyar masuk rumah sakit. Aku benar – benar sahabat yang buruk. Hmm, apa dia masih ingat aku sahabatnya?

***
“Ness, kamu gak jenguk Diyar di rumah sakit?” Tanya Dandi di suatu siang.
“Diyar sakit apa, sih?”
“Ya, ampun, kamu yang dekat dengan dia aja bisa gak tau…” Dandi menyindirku.
“sakit maag, kan?”
“dengar-dengar sih, hepatitis!”
“Apa?”
“Iya, kronis..”
Demikian kagetnya, hingga aku harus merasai bahwa aku masih bernapas.
“masih nggak mau liatin?”
“Kamu kok sinis gitu? Seakan-akan kalau Diyar sakit aku penyebabnya?”
“Memangnya bukan?” Dandi balik meninggikan suara.
“sebenarnya ada apa, sih? Kenapa kalian yang biasanya kompak jadi gak sering sama? Gara-gara kamu, Diyar jadi ikutan ketus sama aku tau!”
“Maksudnya?”
“Ya, biasanya kalo kalian kompak, aku jadi gampang minta pinjam tugas, sekarang, apa-apa nanya nessa, sedikit-sedikit Nessa. Kalo mau punya masalah, jangan sampai merugikan orang lain, donk…” Dandi mulai ngelantur. Aku melongos lemah.
“Dia udah pulang ke kosannya kok,”
“Lho, katanya sakit, baru masuk rumah sakit, kan?”
“sama aja, penyakitnya gak bakal tertolong, jadi dia minta pulang..” tandasnya, dan dia langsung pergi.
***
Aku menangis sejadi-jadinya. Bingung, resah, tidak tahu harus berbuat apa. Sampai di titik ini, aku sangat rindu padanya. Sahabatku, atau entah siapapun dia. Aku tidak ingin berakhir seperti ini, tapi aku harus bagaimana? Aku dan Diyar sudah bersama tidak hanya dalam sekejap cerita, dan aku semakin menyesali kebaikannya harus kuartikan seperti ini dan aku telah menolak persahabatannya. Seketika, aku tidak lagi memikirkan tentang harga diri, gengsi atau rasa malu. Aku hanya ingat satu hal, aku tidak ingin Diyar pergi. Aku tidak ingin Diyar mati! Tiba-tiba aku jadi sangat ingin bertemu dengannya. Aku menyesal sudah menghindarinya. Aku tidak mungkin menepisnya. Sebagai sahabatku, meski harus dengan wajah menunduk. Aku harus menemuinya.
Aku datang ke kost-annya. Tapi Diyar tidak mengacuhkanku. Tidak pula melihat ke wajahku. Dia diam saja. Bubur ayamku yang biasanya menjadi favoritnya manyun di sudut meja. Diyar benar-benar tidak perduli. Rasa malu dan sedih mulai kembali menyergapku. Wajahku memerah.
Diyar yang hanya ber-oblong ria membalikkan badannya, tidak menatapku sama sekali. Tapi, di wajahnya aku melihat kesedihan dan kepasifan yang bercampur satu.
“Aku minta maaf, Diyar, kalo kamu marah…”
“Aku datang, karena aku tau kamu sakit.”
“Maaf karena tidak pernah berusaha untuk menghubungimu”
Diyar masih diam. Aku menjejali pandanganku dengan tubuhnya yang terlihat sedikit kurus, berwarna pucat. Di meja komputernya ada plastik putih obat dari apotek.
“Ya, aku tau, kamu benci aku sekarang, kan? Aku udah merusak persahabatan kita. Tapi kamu selalu bilang padaku kalau aku cengeng, gak dewasa, nggak berani tanggung jawab..., makanya, aku datang.., Aku mau minta maaf.”,Jelasku.
"akulah yang salah, terlalu merasa, sejujumya aku juga nggak ngerti knapa aku ini, aku harus gimana supaya kamu memaafkan aku?”
“Kamu itu gak pernah berubah..plin plan!” Sambut Diyar setelah sekian lama.
“Ya plin plan!'
Aku menatapnya dengan pandangan yang tidak mengerti.
"Dulu, kamu bilang salahku, sekarang jadi salahmu, itu namanya plin plan, kan?"
“Ya, karena aku sudah berpikir, itu gak sepenuhnya salahmu, aku yang merasa dan dibuat buta oleh perasaanku dan nggak seharusnya aku menyalahkan semua itu ke kamu.”
“Dasar bodoh!” celetuknya.
“Aku memaafkan kamu karna gak menjawab telpon, dan karna baru mengunjungiku sekarang. Tapi, aku gak bisa memaafkan sikapmu yang plin plan itu. Apa kamu pikir aku gak bisa berpikir? Lantas kamu gak memberi aku kesempatan?”
“Maksudnya apa?” tanyaku semakin bingung.
“tiga minggu aku berusaha bicara denganmu, meluruskan persoalan atau apapun namanya. Kamu terus menghindar, bahkan pura-pura tidak ada di rumah, padahal sepatu ketsmu saja masih hangat. kamu pikir aku nggak tau? Aku sampe pegal menunggumu untuk sekedar menjawab telponku, membalas smsku…apa susahnya berbaik hati sedikit kepadaku?” Diyar mengeluarkan isi hatinya, dan aku hanya bisa pasrah menerima hukuman dari sikap kekanakanku.
“Sekarang harus bagaimana?” tanyanya.
“kita berbaikan? Begitu maksudmu?”
Aku tidak tahu harus bicara apa. Wajahku memanas.
“Iya, iya! Aku ingin kita baikan..aku ingin kita kembali bersahabat.”
“Gak bisa! Sudah terlambat!”
Aku terbata. Pikiranku terkunci. Kata-kata ‘sudah terlambat’ itu sangat menakutkan.
“Diyar, jangan mati!” ucapku spontan. Disertai air mata yang menyerbu. Aku sesegukan, membenamkan kepalaku di dua lututku. Reflek Diyar mendekat. Ditepuknya tungkai kakiku.
“Hei..ada apa ini? Siapa yang mau mati?” Diyar mengangkat kepalaku. Aku melihati wajahnya yang sangat kusuka, dan semakin tak berdaya mengingat entah berapa lama lagi aku akan bisa menatapnya sedangkan tiga minggu itu telah berlalu dengan sia-sia saja.
“Maafkan aku, ya, aku janji, aku akan merawatmu dengan baik. Aku akan melupakan semua kejadian itu. kamu bisa mengandalkan aku…aku sudah tau semuanya dari Dandi, sekarang yang penting, kita kembali ke dokter, aku gak mau kamu mati, Diyar…” aku masih berurai air mata. Dengannya yang menatapku begitu aneh.
“Hei, dengar ya,…yang mau mati siapa? Dandi ngomong apa?” Bola mata Diyar seperti akan menerkamku dengan rasa tak mengertinya.
“Kamu sakit parah, gak bisa tertolong lagi..” kataku masih terbata. Tapi, Diyar malah tertawa keras.
“hei, kenapa?” kudaratkan kepalan tanganku pelan di lengannya. Aku mulai tak sabar melihatnya menjadikan air mataku lelucon.
“Sudah-sudah, mana bubur ayamnya, aku mau makan bubur ayam kesukaanku!” Diyar menyerbu rantangan di sudut meja. Dia masih tersenyum.
“Hmm, Dandi memang sudah mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik. Buktinya bubur ayam ini, akhirnya nyampe…” Diyar melirikku.
Kali ini, tinju kembali mendarat di lengannya, tapi yang ini lumayan keras.
“Jadi kalian, mempermainkan aku?”
“Hahahah…”
“Diyar! Itu sama sekali nggak lucu!!” aku beranjak dari dudukku. Ditangkapnya pergelangan tanganku.
“Sumpah, aku gak tau apa yang Dandi bicarakan denganmu, Ness. tapi, tadi pagi dia datang, pusing tujuh keliling dengan tugas kampus, aku bilang kamu mungkin sudah selesai, dan dia mau menemuimu. Aku pesan saja, aku ingin bubur ayam dari Nessa. Cuma itu.” Diyar mendaratkan kembali dudukku di sampingnya, beberapa lama saling tatap, dan aku tidak bisa untuk tidak ikut tertawa.
“Aku gak tau,kamu bisa sesayang itu ke aku..” disenggolnya bahuku dengan bahunya.
“Ah, itu karna beritanya yang menyeramkan begitu! Hanya untuk kamu tau ada juga yang sedih, kalo nggak kamu bakal mati dengan kecewa” elakku.
“jadi, kamu mau aku mati?”
“Ah, ngaco..” tepisku. Kami sama-sama diam lagi.
“Aku ingin makan buburnya…”
Aku tersenyum. Di sela-sela suapannya.
“Aku pikir, kita berdua salah" katanya.
“Kita yang mengaburkan makna persahabatan ini”
“Kita? Wah, aku nggak setuju kalau kamu menyalahkan aku untuk mengaburkannya" protesku.
“Kalau aku terlalu ge-er, aku bisa terima. Tapi, aku nggak pemah berubah terhadapmu, justru kamu yang yang bersikap aneh, cuek, dan seakan melarikan diri dari aku. Buktinya, kejadian di kantin, knapa membentakku?”
“Heran, ya, kamu selalu perhatian kepadaku. Kamu juga yang paling tau tentang aku, dan setiap dugaanmu selalu benar…”
“katamu, aku, kan sahabatmu yang paling baik” sindirku.
“Itu terialu berlebihan!'
“Tunggu dulu! Yang berlebihan itu adalah menelponku malam-malam, dengan nada memelas mengatakan kamu tidak bisa tidur, karena kangen padaku, karena seminggu nggak ketemu dan setiap waktu ingat untuk menanyakan keadaanku. Bukannya kita yang membuat kita jadi saling bergantung? Lalu……….”
"Sudahlah..."potongnya dengan nada memelas.
“Ya, sudahlah, aku pun malas membahasnya..." kataku mengiyakan.
“sayangnya aku bukan Ning, ya?” sindirku lagi.
“Ya, nih, aku lagi kesal, aku mati-matian mengejar yang lain, tapi selalu kamu yang aku temui...”
“Diyar...”ucapku tak percaya. Aku menggelengkan kepalaku, tidak habis pikir dengan apa yang dikatakannya. Rasanya ingin kembali lari dan membenamkan muka. Tapi, dia malah tersenyum. Matanya demikian bulat membola.
“Nes..., benar kamu mencintai aku?” tanyanya kembali.
Kutantang matanya tanpa niat untuk menjawab. Dia baru saja selesai menghinaku dan sekarang ingin aku berkata bahwa aku cinta padanya? Apa dipikimya aku sudah gila?
“Lho, kok, gak dijawab? Aku sekarat nih…”
“Kamu baru aja melahap setengah porsi bubur ayamku, mana mungkin sekarat!”
“Hahaha…” tawanya berderai.
“I love you, Nessa..” dikecupnya keningku tanpa aku sempat berkilah. Keningku berkerenyit. Tidak tahu harus merasa apa. Mana yang lebih terasa, bahagia atau kaget?
“Hei, kok, malah bengong? Perasaanmu udah berubah ya?” tanyanya. Mukanya menahan bingung.
“Hei..” diguncangnya pundakku. Diyar makin tak mengerti dengan reaksiku yang tanpa reaksi.
“kayaknya kamu harus ke dokter” akhirnya aku bicara.
“kenapa?”
“buat ngebenerin jalan pikiranmu”
“kamu ini aneh!” tudingnya.
“Kamu yang aneh! Kenapa tiba-tiba jadi berubah begini kepadaku? Kamu kasihan sama aku?”
"Siapa yang kasihan padamu? Aku kasihan sama diriku sendiri, karena gak menyadarinya selama ini”
“gak, ah, aku udah nyaman dengan hubungan kita sekarang…”
“Nessa, perasaanmu benar-benar udah berubah ya?”
aku diam saja.
“kamu kuatir dengan Ning?”
deg. Jantungku berdegup, disebut nama itu, membuat rasa cemburuku kembali berdenyut.
“Gak pernah terjadi sesuatu antara aku dan Ning. aku hanya datang sedikit terlambat. Tapi, tidak kali ini, Ness, aku gak ingin terlambat untukmu”
“kamu pikir stasiun kereta?” kilahku.
“kenapa sih, bicara denganmu bisa jadi sesulit ini?”
“tapi tidak serumit menyadarkan perasaanmu, kan?”
diyar menghembus nafas.
“ya, aku salah, baiklah, ayo!” ditariknya tanganku.
“mau kemana?”
“mau ke dokter!”
“buat apa?”
“aku mau operasi kepala, biar lain kali aku tidak akan tulalit lagi menyadari kasih sayangmu!”
diapitnya lenganku, dia benar-benar berniat pergi ke dokter keliatannya. Dan, aku tidak mampu untuk menahan tawaku lebih lama.
“Nah, sekarang malah kamu yang ketawa, kalau begitu, kita operasi berdua ya!”
Kami, akhirnya, sama-sama tertawa. Ditariknya kepalaku ke dadanya. Merasakan hangatnya cinta dalam gerai tawaku dan dia.
Aku menggeleng tak percaya. Inikah akhir itu? Aku tidak mengerti, sampai detik ini pun kerap masih bertanya-tanya, seperti inikah harusnya? Diyar menolehkan pandangannya menuju wajahku, meriyaki kedua mataku, tersenyum kepadaku dengan jemarinya yang lembut menggenggam jemariku, memakuku di sampingnya. Diyar, aku benar-benar tidak mengerti, pada wajahnya aku mematung. Merayapi wajah milik cinta itu…

(My bedroom, 3 september 2003)