Aku telah lama menantikan, seseorang datang dan berkata, Engkau masih orchid ungu-ku. Tapi, pada akhirnya, aku menemukan seseorang berkata, Akhirnya kau hadir untukku, Orchid. Setelahnya, aku menyadari, itu hal terindah yang pernah kudengar.... Lebih dari kata-kata yang kubayangkan sendiri. Kehadirannya adalah sejuta orchid itu dan aku mekar di antaranya...........

Tuesday, September 26, 2006

my aa

dalam seribu kesan,
kutuangkan wajahnya ke dalam gelas kemenangan
suaraku memarau,
tapi dia tetap tenar berbisik
bergelayut manjanya, membentang di segenap jaring-jaring cinta
terajut dalam pandang di merah
bibirnya yang terkatup

kamu, browniest cokelat favoritku
aku, pinggan perak kesayanganmu
hidupku dan hidupmu
pada serentangan kisah...

--24 september 2006 --
my aa

met ultah orchid ungu...

met ultah orchid ungu,
kembang mawarmu merekah
dalam balutan merah
menggunungkan asa dan kepastian

ragu yang membulir,
terenyap sudah...
teresap dalam menanti

bibirmu mengulum senyum
untuk sebait cinta, sebait rasa

tuah pada hatimu
berkah pada sakitmu
raup ruah tumpah membuncah

melajur pada jalurnya
menopang tegak bahumu
menyaksikan saat kelak,
kepalamu mendarat
pada tangan yang mengusap wajah

laut dan birunya
langit dan birunya
anggunmu dan birunya...

kesaksiaanmu pada sebatang cokelat
berwarna putih coklat

senyaman-nyaman bilur
hingga kelam menyeruput
dan pandangmu bertukar siluet...

met ultah orchid ungu
kebanggaan ada di genggam jemarimu

(nikmati dunia sehari ini ;)

--24 september 2006--

Friday, September 22, 2006

ada yang seperti ini?

Dari kemarin, aku sudah wanti-wanti atasanku di kantor, kalo besok, aku akan ke Rumah Sakit Umum. Aku tau pasti, di sana mesti antri dan akan ada serangkaian antri…alias bukan hanya sekali, jadi waktu yang aku butuhkan pasti kurang lebih setengah hari kerja.

Dan…, jadilah keesokan harinya aku ke RSU..di pusat kota. Pagi pukul 8 aku sudah parkir dan mengambil kartu antrian. Woow, sudah lebih sistematis rupanya dari yang dulu-dulu. Kutulis nama poli atau bagian pemeriksaan yang aku butuhkan. Poli mata untuk memeriksakan mataku. Lalu, aku tinggal menunggu nomor antrianku dipanggil. No 32 tidak terlalu lama menunggu, aku sudah bisa menuju loket dan menunggu seorang pegawainya mengetikkan nama dan biodataku juga nomor kartu askesku. Sesaat saja, dan selesai.

Lumayan cepat kerjanya, pikirku, , ..tapi kemudian, ada instruksi untuk memberikan map kartu ini ke loket berikutnya. Aku berjalan ke loket yang letaknya di pojok. Orang-orang sudah penuh berdesakan. Untung nama kami dipanggil melalui mikrofon, kalau tidak, jelas harus berteriak-teriak. Kubetahkan diri menunggu di depan loket, ikut gabung berdesakan dengan ibu-ibu, nenek-nenek, bapak-bapak, juga ada perempuan yang tubuhnya pendek sekali, hanya se-dadaku dan dia kesulitan memasukkan map askesnya ke lubang loket….

Aku agak lega ketika map askesku yang tampak paling fresh di antara tumpukan map lainnya (maklum baru kali ini berobat sendiri) diambil dan dicek oleh pegawainya tapi tidak berlangsung lama, semangatku langsung buru-buru meluncur ketika ternyata itu hanya pemeriksaan awal dan mapku langsung mendarat di tumpukan selanjutnya dan dibantai habis dengan tumpukan berikutnya. Keringatku mulai menetes, aku tidak sanggup berdiri lagi, dengan susah payah, aku masuki lorong sempit deretan kursi pasien. Aku duduk di kursi paling pojok. Memakai kacamata dan membaca buku “ 101 cerita yang memberdayakan”. Tiga cerita pendeknya tamat kulahap, lensa kacamataku mulai berembun. Tubuhku mulai gelisah. Rasa haus menyerang. Ibu-ibu di belakangku mulai ribut karena namanya yang tak kunjung dipanggil. Aku mulai ragu juga, jangan-jangan mapku terselip dan terlupa. Aku mulai duduk berdiri, gelisah. Tapi, di sela-sela menunggu masih kusempatkan menamatkan 1 cerita pendek lagi.

Ketika akhirnya namaku dipanggil, aku merasa luar biasa lega. Kuraih mapku setelah berjuang memuatkan tubuhku di antara sela manusia di muka loket. Akhirnya aku bebas.

Gila saja pikirku, hanya untuk kartu berobat, harus tiga kali antri, belum lagi kalau ada yang tertinggal membawa kartu askes asli, kartu rujukan puskesmas yang asli, bahkan surat miskin asli, maka pasien harus pulang dulu untuk mengambil dokumen asli itu.

Ya, sudahlah, toh sudah aku lalui. Aku langsung memburu lantai dua, ke poli mata. aku langsung dilayani seorang dokter muda. Diambilnya map yang berisi lembar resep yang akan dituliskan dokter serta selembar kertas jeruk merah ukuran folio, entah untuk apa. Lalu digiringnya aku ke ruang periksa, oleh dokter muda yang lainnya.

Aku disuruh duduk dan memakai kacamata tes lalu melihat ke arah huruf-huruf di dinding dan aku harus menyebutnya satu per satu. Dengan manis dia menanyakan keluhanku. Bahkan kami sempat bercanda dan tertawa. Apakah sudah selesai? O, o..belum, aku nyaris melupakan, dia dokter mudanya. Aku digiring lagi ke ruangan berikutnya. Kali ini dokter yang asli. Hanya duduk dua menit denganku, menyorotkan cahaya senter ke mataku, dan menyakan keluhanku selain yang telah kusebutkan kepada si dokter muda tadi. Hanya bermodal itu, dia memutuskan untuk memberiku resep obat tetes mata dan menyimpulkan, mataku hanya kelelahan dan tidak butuh kacamata.

Aku terpelongo. Tidak tau harus bicara apa. Percuma saja usahaku meminta kacamata untuk keluhanku. Si dokter yang umurnya mungkin hanya beberapa tahun di atasku itu, dengan mantapnya memutuskan, aku tidak butuh kacamata.

Aku keluar dari ruangan, menuruni tangga rumah sakit. Dalam hati, aku merasa dongkol, sebal, kesal, marah….aku memendam omelan, menelannya dalam-dalam, soalnya tidak tau harus marah pada siapa! Tetapi, semakin aku menjauh dari rumah sakit, aku semakin merasa peristiwa yang barusan terjadi sungguh sebuah kekonyolan belaka…

Sebetulnya, aku sudah lebih dulu memeriksakan mataku ke dokter spesialis mata dengan alat khusus untuk menguji mata. Bahkan kacamata sudah kubeli yang sesuai dengan keluhanku. Aku merasa nyaman dengan kacamata ini terbukti dengan rasa sakit kepala dan perih di mataku yang berkurang drastis. Hanya saja, membeli kacamata untuk ukuran kantongku masih terlalu mahal, apalagi aku masih ditanggung asuransi orangtuaku, jadi daripada sia-sia, lebih baik kucek kembali mataku sekadar untuk meminta resep kacamata, nanti resep itu bisa kutukarkan kembali dengan sejumlah uang yang sudah kuberikan untuk menebus kacamata.

Tapi, sekarang…diagnosa dokter-dokter itu malah bertolak belakang…aku benar-benar tidak mengerti…

Yang lebih anehnya lagi, ternyata salah seorang temanku juga pernah mengalami hal yang sama. Padahal kami berdua sama-sama butuh kacamata.

Askes, memang jadi masalah….aku curiga mereka tidak mau memberikan kacamata lantaran bakal rugi dengan askes dan segala peraturannya yang bertele-tele. Masih untung aku dan temanku itu masih mampu membeli meski tanpa askes, bagaimana dengan nasip pasien lainnya, yang nasipnya harus bergantung dengan diagnosa dokter askes yang dengan alat manual dan analisa seadanya…bisa-bisa harus menunggu sampe mata jadi minus sepuluh dan butuh kacamata setebal dasar botol, baru dibolehkan pake kacamata! Dasar ASKES!!!!

Yang lebih menyedihkan, setelah berlelah-lelah ria dengan tiga kali mengatri, tetap saja aku gagal mengambil kembali uangku seharga askes yang mestinya bisa untuk bayar catering selama puasa. Maklum anak kos! Yach, apes deh!!!

Thursday, September 07, 2006

Two double side of world…


terkadang,
hari terasa amat sangat sepi,
dengan hanya deburan ombak,
burung yang berkicau atau
awan yang berjalan dengan gemuruh...
kadang, aku terlalu takut berlari,
dengan salju yang turun perlahan,
gerimis yang meniti dedaunan dan
jalanan lembab karena hujan...


kadang,
aku terlalu gerah untuk berhenti,
dan memandang
lantaran takut berbenturan pada wajah yang salah...
kadang, ya, kadang,
hari-hari terasa terlalu menyakitkan
untuk kujalani seorang diri….

sebuah mulut



Aku hanya sebuah mulut, ya…sebuah mulut. Pekerjaanku ini membuatku merasa bahwa aku hanya sebuah mulut…aku bicara dan bicara…lalu terasa seperti mesin cuci, dimasukkan pakaian kotor lalu mengolahnya dan mengeluarkan pakaian yang siap jemur…tapi, adakalanya juga terasa seperti mesin kode morse, si pemecah sandi atau si bayangan….Aku mengikuti seseorang, bertindak seperti dia, senang seperti dia bereaksi ketika senang. Marah ketika dia marah. Lalu mengatakan hal yang sangat memuakkan untuk aku ucapkan, mengatakan kejujuran yang menjijikkan kadangkala. Memburaikan air`mata pada hal yang membuat haru, tapi lagi-lagi, bukan untuk emosiku seorang. Tapi, semua tidak seburuk itu. namun, ada juga masa dimana aku merasa tumpul…kejenuhan menjadi orang lain dan menyembunyikan perasaan. Aku dihinggapi ketakpercayaan atas kemampuan diri, dan kurangnya penghargaan membuatku kerap merasa pekerjaanku begitu sepele. Aku ingin berhenti dan melakukan hal lain yang bisa membuatku merasa berarti. Aku merasa punya potensi dan sanggup melakukan hal yang lebih besar dari ini. Tapi, ternyata aku salah. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh atau menjadi lebih baik dengan menganggap bahwa apa yang tengah aku lakukan adalah sebuah kemunduran. Tidak bisa begitu. Aku menyadari bahwa yang aku hadapi adalah pertentangan orang-orang bukan diriku. Ketidakpotensialanku adalah omong kosong orang-orang, lagi pula aku tidak mungkin memperoleh penghargaan dari orang lain ketika diriku sendiri justru sangat tidak berminat untuk memberi penghargaan pada kerja keras ini. Aku berada dalam dilemma.
Berbulan lamanya aku habiskan untuk memahami seperti apa sebenarnya yang aku rasakan. Mengembalikan kepercayaan diriku bahwa aku berarti tidaklah semudah dugaanku ketika yang kuhadapi adalah kenyataan bahwa line manajerku sendiri yang tidak menganggapku cukup berarti. Juga teman-temanku yang luar biasa baik yang ingin melihatku tidak tertunda pada satu titik saja.


Pada akhirnya, obat paling mujarab yang aku tegak adalah rasa penghargaan. Satu-satu kucoba mengulas setiap lembar pelajaran yang kumiliki dari hasil aktivitasku yang bergelimang dalam otak, pikiran dan keinginan orang lain yang kusebut klien sang pemakai jasaku. Sebuah kenangan manis yang pernah tertoreh dari seseorang yang sangat menghargai pekerjaanku. Dengan sebuah kalimat manis dia menyebutku “mulutnya”. Seseorang yang sangat menghargai pekerjaanku mengajarkan hal yang sangat berharga untukku bahkan hingga ke masa depan. Sebuah trik untuk membuat orang lain merasa dihargai bahkan ketika dalam hatiku sendiri tengah penuh kebencian padanya. Bersikap diplomatic. Tersenyum bukan hanya saat ingin tapi diinginkan dan keharusan juga untuk yang seharusnya. Berpikir diplomatis, menempatkan diri pada posisi orang lain dan membolak-balikkan posisi emosi. Berganti emosi dalam satu detik dan tak ada istilah kosong emosi saat berhadapan dan berbicara dengan orang lain. Ah, alangkah bermaknanya! Maka, di tengah perjalanan, aku merasa bahwa aku adalah seorang aktris yang berbakat. Ketika sedang bekerja, aku bukanlah diriku lagi. Aku terpisah dari segala unsure emosiku dan diriku yang sesungguhnya sedang tertidur di tempat yang teramat dalam, jauh di kedalaman benak dan pikiranku….dan, aku merasa sukses!

Dan di suatu titik…aku berkata, aku telah sukses bukan hanya untuk pekerjaanku saja tapi juga untuk diriku yang telah kembali percaya pada sebuah kemampuan di dalam diriku.
Tak ada lagi rasa kecil hanya meski kebanyakan menganggap, aku hanya sebuah mulut ;)

the world's paradise


Aku percaya, setiap perjalanan telah digariskan, telah ditentukan dan semua dapat terjadi seadanya, bahkan tanpa perencanaan… Kali ini, perjalanan itu mengkhendaki aku hadir menggariskan tapak, membuatku kembali melangkah ke sebuah pulau yang sangat bermakna untukku dan orang-orang dengan jiwa mencintai lainnya….,mencintai pulau ini, seperti paradise…seperti menghendaki jantung untuk tetap berdetak dan matahari untuk tetap berwarna terang… Aku jatuh cinta pada pulau ini, pada ketenangannya, pada kesantaian penduduknya, pada keramahan mata yang menyapa di setiap lekuk jalannya yang terjal..pada anak-anak polos yang tangannya melambai pada kami, tanpa beban dan penuh harga diri….aku terbius pada riuh debur ombak di sepanjang mata memandang, pada kaki langit yang pecah oleh tiga anak pedang cahaya di senja yang beranjak tua…

Aku tidak mengerti hati kerasku ini bisa juga jatuh cinta pada ketiadaan dan kekurangan…listrik yang hanya menyala dengan generator set yang begitu haus bahan bakar, pada rice cooker dan hangat nasi putih yang hanya bisa dinikmati pada malam hari, pada sulitnya menimba air dengan timba dari sumur yang dalamnya puluhan cincin, pada kucing manja yang selalu bergelayut di pinggangku saat mencoba menarik perhatianku agar berbagi makan siang dengannya (aku malah menyuruh temanku untuk menjauhkannya dariku!), pada tidur malamku yang ditemani gemuruh laut yang seperti deru hujan…Dan, ketika kutemukan kulit wajahku yang kering dan menghitam terbakar matahari, aku malah merasa itu setimpal dengan kepuasaan yang aku rasakan…

Favoritku adalah lautnya…Aku suka laut, aku merasa bahwa, jantungku sesungguhnya ada di laut…tapi di sini, aku justru lebih menyukai perpaduan laut dan gunung-gunung…gunung yang menurutku adalah kreasi Tuhan yang aneh menjadi jodoh terindah bagi lautku. Tak masalah lagi bagiku menghadapi kecantikan keanehan gunung, onggokan tanah yang timbul di lautan yang ketika dari dekat hanyalah pohon, pohon dan pohon justru adalah kesempurnaan dengan sentuhan birunya air lautku…Aku terhipnotis!

Tapi akhirnya, tiba juga saatnya pulang kembali…besok, kapal pertama adalah tumpuan langkah kami yang harus dikejar sebelum berlayar… Aku sangat puas berada nyaris satu minggu di sini, andai pekerjaan tidak selesai hari ini, kami pasti akan lebih ingin di sini, tapi, semua sudah selesai untuk sementara waktu dan sejumlah pekerjaan rumah sudah pula menumpuk di kantung data dan informasi. Kami harus membawanya pulang…

Selamat tinggal pulau indah bernama Pulo Aceh…sebuah tempat nyaman di sebuah desa bernama Deudap, bagian kecilmu yang kami panggil pulau Nasi…Yang terindah lautku…ombak yang begitu kalem kala menyambut kakiku…airmu yang hangat…tentu aku akan amat sangat kangen pada pantaimu yang hanya tersentuh karang kecil laut yang tidur di permukaanmu, surgamu yang tak tersentuh….

Selamat tinggal dan sampai ketemu lagi, di suatu sore nanti….

Pulo aceh lon sayang – 06th of September 2006