Dari kemarin, aku sudah wanti-wanti atasanku di kantor, kalo besok, aku akan ke Rumah Sakit Umum. Aku tau pasti, di sana mesti antri dan akan ada serangkaian antri…alias bukan hanya sekali, jadi waktu yang aku butuhkan pasti kurang lebih setengah hari kerja.
Dan…, jadilah keesokan harinya aku ke RSU..di pusat kota. Pagi pukul 8 aku sudah parkir dan mengambil kartu antrian. Woow, sudah lebih sistematis rupanya dari yang dulu-dulu. Kutulis nama poli atau bagian pemeriksaan yang aku butuhkan. Poli mata untuk memeriksakan mataku. Lalu, aku tinggal menunggu nomor antrianku dipanggil. No 32 tidak terlalu lama menunggu, aku sudah bisa menuju loket dan menunggu seorang pegawainya mengetikkan nama dan biodataku juga nomor kartu askesku. Sesaat saja, dan selesai.
Lumayan cepat kerjanya, pikirku, , ..tapi kemudian, ada instruksi untuk memberikan map kartu ini ke loket berikutnya. Aku berjalan ke loket yang letaknya di pojok. Orang-orang sudah penuh berdesakan. Untung nama kami dipanggil melalui mikrofon, kalau tidak, jelas harus berteriak-teriak. Kubetahkan diri menunggu di depan loket, ikut gabung berdesakan dengan ibu-ibu, nenek-nenek, bapak-bapak, juga ada perempuan yang tubuhnya pendek sekali, hanya se-dadaku dan dia kesulitan memasukkan map askesnya ke lubang loket….
Aku agak lega ketika map askesku yang tampak paling fresh di antara tumpukan map lainnya (maklum baru kali ini berobat sendiri) diambil dan dicek oleh pegawainya tapi tidak berlangsung lama, semangatku langsung buru-buru meluncur ketika ternyata itu hanya pemeriksaan awal dan mapku langsung mendarat di tumpukan selanjutnya dan dibantai habis dengan tumpukan berikutnya. Keringatku mulai menetes, aku tidak sanggup berdiri lagi, dengan susah payah, aku masuki lorong sempit deretan kursi pasien. Aku duduk di kursi paling pojok. Memakai kacamata dan membaca buku “ 101 cerita yang memberdayakan”. Tiga cerita pendeknya tamat kulahap, lensa kacamataku mulai berembun. Tubuhku mulai gelisah. Rasa haus menyerang. Ibu-ibu di belakangku mulai ribut karena namanya yang tak kunjung dipanggil. Aku mulai ragu juga, jangan-jangan mapku terselip dan terlupa. Aku mulai duduk berdiri, gelisah. Tapi, di sela-sela menunggu masih kusempatkan menamatkan 1 cerita pendek lagi.
Ketika akhirnya namaku dipanggil, aku merasa luar biasa lega. Kuraih mapku setelah berjuang memuatkan tubuhku di antara sela manusia di muka loket. Akhirnya aku bebas.
Gila saja pikirku, hanya untuk kartu berobat, harus tiga kali antri, belum lagi kalau ada yang tertinggal membawa kartu askes asli, kartu rujukan puskesmas yang asli, bahkan surat miskin asli, maka pasien harus pulang dulu untuk mengambil dokumen asli itu.
Ya, sudahlah, toh sudah aku lalui. Aku langsung memburu lantai dua, ke poli mata. aku langsung dilayani seorang dokter muda. Diambilnya map yang berisi lembar resep yang akan dituliskan dokter serta selembar kertas jeruk merah ukuran folio, entah untuk apa. Lalu digiringnya aku ke ruang periksa, oleh dokter muda yang lainnya.
Aku disuruh duduk dan memakai kacamata tes lalu melihat ke arah huruf-huruf di dinding dan aku harus menyebutnya satu per satu. Dengan manis dia menanyakan keluhanku. Bahkan kami sempat bercanda dan tertawa. Apakah sudah selesai? O, o..belum, aku nyaris melupakan, dia dokter mudanya. Aku digiring lagi ke ruangan berikutnya. Kali ini dokter yang asli. Hanya duduk dua menit denganku, menyorotkan cahaya senter ke mataku, dan menyakan keluhanku selain yang telah kusebutkan kepada si dokter muda tadi. Hanya bermodal itu, dia memutuskan untuk memberiku resep obat tetes mata dan menyimpulkan, mataku hanya kelelahan dan tidak butuh kacamata.
Aku terpelongo. Tidak tau harus bicara apa. Percuma saja usahaku meminta kacamata untuk keluhanku. Si dokter yang umurnya mungkin hanya beberapa tahun di atasku itu, dengan mantapnya memutuskan, aku tidak butuh kacamata.
Aku keluar dari ruangan, menuruni tangga rumah sakit. Dalam hati, aku merasa dongkol, sebal, kesal, marah….aku memendam omelan, menelannya dalam-dalam, soalnya tidak tau harus marah pada siapa! Tetapi, semakin aku menjauh dari rumah sakit, aku semakin merasa peristiwa yang barusan terjadi sungguh sebuah kekonyolan belaka…
Sebetulnya, aku sudah lebih dulu memeriksakan mataku ke dokter spesialis mata dengan alat khusus untuk menguji mata. Bahkan kacamata sudah kubeli yang sesuai dengan keluhanku. Aku merasa nyaman dengan kacamata ini terbukti dengan rasa sakit kepala dan perih di mataku yang berkurang drastis. Hanya saja, membeli kacamata untuk ukuran kantongku masih terlalu mahal, apalagi aku masih ditanggung asuransi orangtuaku, jadi daripada sia-sia, lebih baik kucek kembali mataku sekadar untuk meminta resep kacamata, nanti resep itu bisa kutukarkan kembali dengan sejumlah uang yang sudah kuberikan untuk menebus kacamata.
Tapi, sekarang…diagnosa dokter-dokter itu malah bertolak belakang…aku benar-benar tidak mengerti…
Yang lebih anehnya lagi, ternyata salah seorang temanku juga pernah mengalami hal yang sama. Padahal kami berdua sama-sama butuh kacamata.
Askes, memang jadi masalah….aku curiga mereka tidak mau memberikan kacamata lantaran bakal rugi dengan askes dan segala peraturannya yang bertele-tele. Masih untung aku dan temanku itu masih mampu membeli meski tanpa askes, bagaimana dengan nasip pasien lainnya, yang nasipnya harus bergantung dengan diagnosa dokter askes yang dengan alat manual dan analisa seadanya…bisa-bisa harus menunggu sampe mata jadi minus sepuluh dan butuh kacamata setebal dasar botol, baru dibolehkan pake kacamata! Dasar ASKES!!!!
Yang lebih menyedihkan, setelah berlelah-lelah ria dengan tiga kali mengatri, tetap saja aku gagal mengambil kembali uangku seharga askes yang mestinya bisa untuk bayar catering selama puasa. Maklum anak kos! Yach, apes deh!!!
Aku telah lama menantikan, seseorang datang dan berkata, Engkau masih orchid ungu-ku. Tapi, pada akhirnya, aku menemukan seseorang berkata, Akhirnya kau hadir untukku, Orchid. Setelahnya, aku menyadari, itu hal terindah yang pernah kudengar.... Lebih dari kata-kata yang kubayangkan sendiri. Kehadirannya adalah sejuta orchid itu dan aku mekar di antaranya...........
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment