Aku telah lama menantikan, seseorang datang dan berkata, Engkau masih orchid ungu-ku. Tapi, pada akhirnya, aku menemukan seseorang berkata, Akhirnya kau hadir untukku, Orchid. Setelahnya, aku menyadari, itu hal terindah yang pernah kudengar.... Lebih dari kata-kata yang kubayangkan sendiri. Kehadirannya adalah sejuta orchid itu dan aku mekar di antaranya...........

Wednesday, October 11, 2006

hujan semusim

tidak bisa aku gapai,
apa yang telah pergi dan berlalu...
apa yang telah menggoreskan arti dengan setiap luka perih

aku berjalan dengan langkah yang kadang nyaris berlari
aku begitu ketakutan dan merasa begitu kuyuh...
aku sakit dan kecewa
aku hilang dan menghilang

dalam ruang jingga aku bertemu kembali dengan gadis 18 tahun
yang baru saja melepas seragam...
aku mempertanyakannya, berkenalan dengannya kembali..

namanya lugu dan ceria
alias bersahaja dan sedikit naif
culun wajahnya dalam balutan kepolosan...
tidak punya apa-apa
selain senyum di bibirnya
segala kebimbangan datang di malam-malam
dalam sunyi-sunyi
besoknya, dia kembali terbalut ceria
dalam balutan siluet putih abu-abu

aku tidak mengerti,
bagaimana mungkin aku tidak lagi mengenalnya?
pada senyum dan matanya yang membola?
pada lembut suara lirihnya yang bertanya dan menyapa
kenapa? kenapa aku harus berkenalan lagi dengannya
bukankah seharusnya aku adalah dirinya
dan dirinya selalu bersemayam dalam diriku?

kutapaki kembali jejak-jejak yang sama
kuselami lagi rangkaian kisah
berharap memoriku kembali padanya
dan dia dapat kembali kepadaku
agar bisa kupeluk dan kutempatkan kembali
dalam relung jiwaku di sedalam-dalamnya tempat.

tapi....
dia hanya berdiri di mukaku
dia hanya menatap kepadaku
sedang tanganku terlalu takut untuk mengulur
aku diam seribu bahasa
melihati gerai rambutnya yang kaku karna shampo murahan
dan kakinya yang terbalut kaus kaki berwarna putih...

aku menangis...
kesedihan menghalangiku menyentuhnya
aku takut melukai perasaan halusnya
dan membenamkan impiannya yang begitu sederhana

aku terus tenggelam dalam kebisuan
sedang matanya tak mengerjap menatapku
dia begitu ragu untuk merangkulku
meski hanya lewat tatapan mata

fokusku pada kesedihan itu
telah membuatku kehilangan dirinya untuk ke sekian kalinya
untuk sekian musim yang berganti
dan entah dia sudi kembali...

dan, aku terus menunggunya...
menyambut tanganku yang pasti akan mengulur
di akhir hujan semusim...

oct-11/2006

No comments: