Aku berlari mengejar robur sepatu, bus raksasa itu nyaris tak mau berhenti melewati halte simpang lima jalan raya. Kernetnya tersenyum-senyum menyambut tubuhku yang kelelahan mengejar lajunya. Sialan! Tapi, yang paling penting aku sudah berada di dalamnya. Aku berdiri di sisi jendela paling depan, di belakangku duduk anak-anak SMU yang baru pulang sekolah.
“Mau duduk, kak? Di sini aja.." Salah satu yang berwajah cukup kiyut menawarkan kursi dengan manisnya. Mungkin dia iba dengan butiran keringat yang bertengger di keningku.
Aku tersenyum dengan senyuman paling manisku.
“Memangnya nggak apa-apa kalo kamu berdiri?” kataku sok kuatir. Tapi, si kiyut malah nyengir.
"Maksudku di sini lo, Kak" tunjuknya ke pangkuannya. Berbarengan dengan gelak tawa teman-temannya. Kubuang mukaku jauh-jauh. Dasar anak jaman sekarang nggak ada sopan-sopannya.
Mungkin, Tuhan masih sayang padaku karena akhirnya aku turun juga dari bus itu. Bergegas aku melangkah menuju koridor kampus. Hari ini ruang kuliahku ada di lantai tiga. Tidak ada lift atau eskalator. Ya, ini kampusku, berapapun banyak tingkatnya hanya ada tangga yang berjejer menuju tujuan. Kutarik napasku dalam-dalam bersiap menapakinya satu-satu. Aku ingat, dosen Elektronika Analog-ku menunggu untuk sebuah midtest tepat di pukul dua, dan itu hanya bersisa beberapa menit lagi. Ah, aku benci harus kelabakan seperti ini!. Kenapa juga kuterima mengajar double shift di bimbel yang sudah setengah tahun ini menyita waktu sampinganku?
“Hei, baru datang?” Ine menahanku di anak tangga terakhir. Mataku membelalak.
“Memangnya kenapa?” ,
Dia tertawa.
“Nes, midtestnya nggak jadi!'
“Apa?" kuhembus napasku kuat-kuat, Sial benar aku! Tapi kuteruskan juga langkahku menuju kelas, sementara yang lainnya beranjak bubar.
“Hei, baru datang?"Dandi menyapaku.
“Midtestnya nggak jadi betulan nih?”
“Siapa bilang? Khusus buat kamu, Pak Ramon udah nitip pertanyaan tadi sama aku"
“Oh ya? Apa tuh?”
“Nes, would you marry me?” Dandy terbahak. Dan masih tetap terbahak meski telah kugeplak kepalanya dengan gulungan kertas laporanku. Teman-temanku tidak pemah berubah, menjodoh-jodohkan aku, parahnya, selalu dengan dosen! Aku melenggang keluar kelas. Hei, mengapa luput wajah ini dari mataku sedari tadi?
“Hai!” sapaku riang. Aku biasa menyapa setiap orang dengan dengan sikap yang sama. Tapi, hanya dia yang membalasnya dengan begitu dingin.
“Ah, capeknya aku, Di! Sudah susah-susah berdesakan naik robur kemari, dosennya malah nggak masuk... Aduh, mestinya aku nggak perlu terburu-buru ngabur tadi selepas mengajar, kan, bisa makan as krim dulu, kek, cokelat, kek…”
“Memangnya, nggak ke kampus kemaren?"
Aku menggeleng.
"Enggak nanya ke teman-teman juga?”
Masih juga menggeleng.
"Memangnya ada apa?"
“Ya, pengumuman nggak jadi midtest itu udah dari kemaren. Dasar kebiasaanmu tuh.." Timpalnya, Pandangannya tetap saja cuek bebek. Dia sibuk berkutat dengan bukunya. Mulutku jadi manyun.
“Sistem Microprosesor....” gumamku, membaca judul buku yang sedang dilahap Diyar. Dia memang kutu buku sejati.
Tiba-tiba dia berhenti.
“laporan?” tanyanya sambil menunjuk lembaran kertas kwarto di map transparanku. “Yup!"
“Boleh aku liat?
"Ya, bolehlah..., kamu ini knapa jadi sungkan-sungkan begitu?" protesku. Tapi dia keburu sibuk mengamati laporanku, jadi, lagi – lagi kalimatku tidak digubrisnya.
“Eh, Di, tugas programmu udah selesai?" Dia menggangguk.
"aku liat ya?"
“Sama Ade”, jawabnya pendek.
“Kalo gitu kamu liat tugasku ini, bentar aja, udah bener belum?”
Diyar mengamati sejenak, matanya lurus menghadapi rangkaian flowchart milikku, selurus pandanganku merayapi setiap lekuk wajahnya. Cuma sekilas, ketika dia buru-buru menyadari perbuatanku.
“Ini, udah bener, kok” katanya seraya membuat pandanganku patah begitu saja. Lalu dia benar-benar akan kabur meninggalkanku.
“Di, mau kemana?” napasku ngos-ngosan mengejamya menuruni tangga.
“Ke kantin”
“Belum makan siang juga? Udah jam berapa nih? Kamu kok lalai begitu, kalau sakit gimana?”
Diyar tidak menjawab, saat itu aku sadar, aku sudah terlalu banyak bicara. Diyar sudah berubah, entah karena apa, aku tidak mengerti.
Diyar memesan nasi dengan ikan besar kesukaannya. Beberapa menit kemudian dia sudah asyik melahapnya. Disampingnya, aku pura-pura asyik juga dengan orange juice-ku. Tapi aku tidak tahan, meski sudah kukontrol diriku, tetap saja gagal, mataku tetap saja ingin mengarnati tingkahnya yang terasa demikian ganjil.
“Di, ada masalah?”
Dia Cuma melihatku sesaat.
“Aku tau masalahnya, Cuma sedang lapar, kan?” ledekku. bibirnya tersungging. “kamu kayaknya sakit, deh...” timpalku.
“Tuh, benar, kan, mukamu merah. Maag-mu kambuh? Atau, jangan jangan kamu merokok lagi? Kamu tau,kan, kerongkongan kamu tuh nggak mampu nahan nikotin.”
“aku nggak pa-pa"
“masa?”
“ iya”
“laporanmu kamu ketik dimana? Komputermu masih rusak, kan?”
Dia selalu begitu, tidak pemah langsung menjawab pertanyaanku, dia dengan sabamya lebih dulu memastikan kalau nasinya benar-benar sudah tertelan. Tapi, kali ini sesabar apapun aku menunggunya untuk menjawab pertanyaanku hanya akan sia-sia. Diyar tidak bersuara, dia menyelesaikan makannya dan bertingkah seolah dia benar-benar akan pergi.
"Di ada masalah apa, sih?" tanyaku mulai kesal. Eh, dia malah benar-benar beranjak dari kursi.
“Di..!” cekalku.
"Aku pusing mendengar pertanyaan-pertanyaanmu!” bentaknya sebelum benar-benar pergi. Meninggalkanku dengan mata membola tak percaya.
***
Dan, itu adalah hari terakhir aku bicara dengannya. Hari yang juga mestinya tidak pemah terjadi dalam kehidupanku. Sudah seminggu berlalu, aku masih juga meratapinya.
“Aku malu, De, dia membentakku begitu di kantin..” lirihku. Ade membelai kepalaku yang ada di pangkuannya. "Tapi aku juga marah..kok, tega dia begitu?”
“Udahlah, Ness, nggak usah diingat lagi.”
“Aku cuma perduli padanya, apa itu salah?” ratapku.
“Mungkin memang dia nggak peduli kepedulian orang lain. Kamu tau, kan, bahkan lebih tau dari aku, bagaimana sikapnya? Sedangkan sama teman-teman aja dia Cuma ngomong seperlunya. Aku juga kalo bener-bener butuh aja ngomong sama dia, belakangan dekat, kan lantaran satu kelompok praktikum, udah, gitu aja”
“Tapi dia biasanya nggak begitu sama aku”
”Dia lagi banyak pikiran barangkali"
“Dia bentak aku, De ...aku mesti gimana?" airmataku kembali mengalir. Benar-benar tidak bisa dibendung. Aku kembali sesegukan.
“Aku bilang juga apa, bersahabat jangan pake perasaan!” timpalnya.
***
Hari ini, keadaan agak membaik, selesai midtest yang ditunda, aku ke kantin sendirian. Memang sudah bakatku, sehabis ujian pasti lapar. Aku membeli dua potong donat jumbo dengan taburan cokelat dan keju lantas pulang jalan kaki menuju halte bus di ujung jalan kompleks kampus.
"Ness.." sapa seseorang dari arah samping kiriku.
“Hai, Di,” balasku bersemangat. Jangan tanyakan kenapa aku bisa seceria ini membalas sapaannya setelah kejadian seminggu lalu. Aku tidak pernah bisa memegang janji untuk marah padanya. Setiap kali amarahku berkobar, setiap kali itu pula dia muncul mengaburkan misi ini.
“Ini ada selebaran untuk seminar minggu depan..”
Hmm, dia sendiri bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“Oo, thanks!” aku menerima selembaran kertas tipis berwama oranye, di sana tertulis seminar dan pelatihan kemahasiswaan bidang teknik telekomunikasi. Aku pasti datang.
“Ning udah diajak?”
“Sudah” jawabnya pendek.
“Ness, sori ya, waktu itu aku bersikap gak enak”
" Ah, udahlah. Ngapain juga aku perduli, kamu mau bersikap cuek, gak perduli, atau apapun, toh aku bukan siapa-siapa.” Kataku. Sesaat, kami diam.
"iya aku tau, aku salah, tapi, benar, kamu kuatirkan aku?'
Oh, God, dia bertanya seperti itu, rasa haruku nyaris tumpah. Tapi, buru – buru kucubit tanganku sendiri, aku sudah cukup malu, jadi tidak ingin lebih malu lagi dengan menangis di depannya. Aku pura-pura tidak ingin mendengar.
“Mau donat?" kataku iseng. Mata kami beradu. Untuk kesekian kalinya aku menepisnya. Di tengah trotoar kami berhenti, hari sudah lumayan sore, jalanan mulai sepi.
"Kenapa?” tanyanya pelan .
“Apanya?”
"Matamu"
“Kenapa dengan mataku?”
"Kenapa tidak pernah balas menatap...” Diyar menggenggam kedua bahuku. Memaksa mataku hanya menuju satu, kedua matanya.
"Menatapi aku, seperti ini.." ditatapnya mataku.
Apa sebenarnya yang sedang diselidikinya dariku? Pertanyaanku menusuk rasa penasaranku yang tiba-tiba menguap. Kubalas tatapannya. Dunia untuk sesaat berhenti. Aku tidak bisa berkata-kata. Mulutku yang masih tersumpal dengan sisa donat, tidak bisa lagi menelan. Aku mati kutu. Semua peristiwa antara aku dan Diyar yang pemah terjadi kini berputar-putar dalam penggalan-penggalan yang berkelebat tak menentu. Diyar dan aku yang bahagia, Diyar dan aku yang belia, yang selalu bersama menghabiskan banyak waktu untuk apa saja. Diyar yang dingin dan tenang, aku yang ekspresif dan tidak terkendali. Diyar yang memberi warna dan kesempatan untuk mencintai.... Mencintai? Tiba-tiba ada rasa sakit yang dalam. Membuatku berpaling darinya. Kutepis tangannya juga dua bola matanya, dengan setengah berlari kutinggalkan dia! Sekelebat kenangan menyergapku.
"Diyar mengajakku jalan..." masih terngiang kata-kata Ning berbulan lalu. Di suatu hari di tengah kelas kuliahku. Saat telingaku harusnya mendengar materi kuliah, aku malah disumpali kata-kata konyol seperti itu. Tapi, benarkah itu hanya kata-kata konyol? Tidak, aku malah keluar kelas, bersembunyi di toilet kampus dan parahnya lagi, aku menangis.....
Aku melihat dengan jelas mata Ning yang mengeekspressikan rasa sukanya pada Diyar. Aku bisa membacanya, dan aku merasa demikian muak. Aku tau Ning sudah punya kekasih, tapi dia tetap menerima Diyar. Alangkah bodohnya Diyar, atau bodohnya cinta, dan aku kecewa ternyata Ning yang mampu membuatku melihat pelangi cinta di mata Diyar.
"Ness!" Kudengar teriakan Diyar. Aku baru mendengarnya berteriak kali itu. Tapi aku tidak ingin berhenti, aku ingin terus pergi dan menghilang.
***
Hari itu, aku benar-benar bisa menghilang darinya. Bahkan seminggu berikutnya, aku sibuk di laboratorium mengawasi jalannya praktikum adik-adik letingku. Aku tidak bertemu dengannya, tidak ingin bertemu.
"Kenapa?!" tiba-tiba, di suatu sore, di ruang praktikum yang lengang, Diyar sudah berdiri di depanku. Dia dengan pertanyaannya yang cuma sepatah itu.
“Aku nggak mengerti!"
“Kamu pura-pura nggak mengerti!”
“Aku memang nggak mengerti, kenapa kamu ada di sini? ”
“Aku yang lebih dulu bertanya. Kenapa?” tatapnya.
“Aku ingin berhenti melihatmu!”
“Kenapa?”
"Supaya tidak tersakiti” kataku baku.
“Aku menyakitimu? Dimana? Kapan? Di kantin, aku sudah minta maaf, aku salah..aku hanya …ah, bagaimana cara menjelaskannya, aku bingung…”
Diyar malah menggelengkan kepalanya.
“Kenapa mesti kuatirkan aku? Kenapa?”
“Aku nggak ngerti pertanyaanmu. Aku ini sahabatmu, kan? Benar aku sahabatmu, kan? SAHABAT?” Kesalku melunjak hingga ke tenggorokan. Napasku terasa sesak. Bodohnya, airmataku yang tidak kuundang datang malah ikut serta berlari di pipiku. Entah karena melihat itu, Diyar melunak. Dia terduduk di kursi praktikan, menatapi meja.
“Ness, aku baru aja ngomong dengan Ade tentang perasaanmu terhadap aku”
Oh, Tuhan, kepalaku tiba-tiba sakit.
“Kenapa menyelidiki aku begitu?!” Aku meledak di depannya.
“Ness, jangan buru-buru marah.” Diyar menggenggam pergelangan tanganku.
“Aku benar-benar minta maaf”
“maaf? Maaf untuk apa? Ade bilang apa? “
Diyar menggeleng.
“Apa?”
Diyar tidak menjawab. Kepalaku semakin sakit. Aku merasa malu. Begitu malu.
“Dengar, ya! Apapun yang pemah aku rasakan padamu, itu sudah berlalu, kamu jangan berpikir terlalu jauh! Kamu nggak lebih hebat dari siapapun di dunia ini, dan sekarang, kamu datang seperti ini, hanya mengobarkan kebencianku padamu.”
"Nessa..."
"Aku nggak ingin bicara lagi!" kuraih tasku berharap bisa segera menghilang. Tapi Diyar terus menahanku.
“Kalau kamu pergi terus, masalah kita ini tidak akan pemah selesai...”
“Aku nggak merasa ini masalah kita, ini masalah aku dengan diriku sendiri. Aku dibuat bodoh dengan perasaanku sendiri.”
“Ini semua karena Ning?” tanyanya. aku terkejut.
"Kamu tau aku dekat dengan Ning...." gumamnya.
“Yang aku tau kamu merayunya” tuduhku, sengaja untuk menyakitinya.
“Aku gak dekat dengannya karena iseng, aku memang suka dia…” hatiku mengguruh, perih. Aku tau, Diyar jujur.
“Dia sudah punya pacar” potongku. Berlagak tak mau memahami betapa bodohnya seseorang dapat bersikap untuk satu kata itu.
"Ya, aku salah, dia sudah punya pacar..."
“Lalu kamu patah hati? Sakit hati?”
“Aku akan lebih sakit hati lagi, kalau Nessa sahabatku bersikap jadi seperti ini…”
Kerutan di keningnya menandakan keseriusannya.
“Sudahlah, aku nggak perduli soal Ning..” aku menghela nafas.
“Kamu suka siapa pun, itu terserah, karena kamu gak pernah bilang ke aku, maka sakit hati itu, aku nggak mau ambil pusing, tapi, jangan buat aku merasa bersalah dengan perduli padamu…karena kita biasa saling perduli.”
“Iya, aku tau. Maafin aku ya…aku tau nessa yang hanya perduli padaku, kadang, semua terasa kabur, aku sangat sakit hati Ness…aku sangat berharap Ning akan selalu bisa memperhatikan aku sepertimu, tapi…”
“Tapi, aku bukan Ning..?”
Diyar menunduk.
”Seandainya, aku tau, kamu sedang mendekati Ning, aku gak akan sakit seperti ini, Diyar…”
“Maksudmu?”
“Sebagai sahabat, aku gak mengerti kenapa kamu gak pernah bilang soal Ning ke aku? Kamu buat aku berpikir, semua kedekatan kita selama ini punya arti yang lebih, dan aku merasa bodoh…”
Wajah Diyar menegang, dia menatapku dengan pandangan yang sangat lain. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Dia kelihatan sangat bingung, seakan seluruh isi pikirannya berbaur pada satu jalan di otaknya.
“Aku menikmati kedekatan kita Nessa, tidak ada hubungannya dengan Ning...”
“sebagai sahabat?” aku mulai mencari-cari hal yang belum bisa kupastikan di riak wajahnya yang memerah.
Diyar tidak mampu menjawab.
“Jadi aku dan Ning berbeda meski perlakuanmu sama? Maumu apa Diyar? Aku sebagai pengganti Ning?”
“Aku seperti itu, kepadamu?”tanyanya.
“Ya!'” ucapku.
"Kamu nggak sadar?!”
" Mungkin juga Karena perasaanku ke kamu yang ternyata lebih dari apa yang kamu harapkan, dan sikapmu itu membuat aku jadi terlalu banyak menduga, apa kamu mengerti?”, ketusku. Diyar menatap gamang. Saat kemudian aku dan Diyar duduk berdampingan, kami sama-sama diam, sama-sama tidak bersuara.
“kamu mencintai aku?”, kutatap matanya. Sekaligus menegaskan, bahwa aku mampu menatapnya meski lebih sering mengelak.
"Apa kamu cinta aku?” suaraku kembali sinis. Dia tidak dapat menjawabnya kuhembuskan napasku, berpaling dari wajahnya.
"Nggak masalah buatku, kamu mau merasakan apa terhadapku, kamu mau bersama orang lain, atau mengejar Ning, aku tidak perduli, aku hanya nggak ingin kamu membebani aku dengan kehadiranmu yang kadang berlebihan untuk sekadar seorang teman.”
“Ness..”
" Itu semua beban buat aku, Di..” potongku.
"Do you love me, Nessa?" Diyar menunjuk dadanya.
“Kamu kan sudah bertanya pada Ade, kenapa bertanya lagi?”
Diyar diam saja. Kini aku merasa sesuatu yang ganjil telah terjadi. Jangan-jangan...
“Aku memang bicara dengan Ade, soal aku yang tidak lagi mengerti tentang bagaimana kita, tapi Ade ggak pernah bilang kalau kamu...”
“Oh!” Pekikku tertahan di pangkal lidah. Kutundukkan wajahku, menyembunyikannya di dalam kedua telapak tanganku. Nafasku seakan terbang dan sepertinya hanya ada ruangan yang begitu kecilnya hingga membuatku terjepit di antaranya.
“Ya ampun...." aku terbata, kepalaku menelungkup ditutupi lengan ini. Diyar tidak juga bergeming.
“Knapa kamu membuat aku mengatakan hal bodoh ini?” rutukku.
“Sekarang harus bagaimana?”tanyaku untuk diriku sendiri.
“Memangnya kenapa? Lebih baik aku tau, kan?”
“Aku malu! Mau kutaruh di mana mukaku?" tanyaku dengan bodohnya. Entah kemana larinya rasa marah dan sedihku, entah kemana perginya harga diriku di depan Diyar, karena setelah tersudut begini, aku masih sempat mengadu padanya?
Aku menangis di depannya. Dirangkulnya wajahku. Beberapa menit dibiarkannya aku melepas tangis.
“Shhuuuhh…sudahlah, kenapa harus malu..ingat, kita selalu jujur, kan?” yakinnya.
“Aku ini sahabatmu Nessa”
Seketika aku terdiam, tangisku berhenti, aku kehilangan diri, sekarang tidak tahu lagi apa yang aku rasakan. Kata-kata itu menamparku telak.
Kutarik wajahku dari rasa nyaman sesaat itu. Aku berlari keluar ruang praktikum, menuruni tangga, terus berlari dan menghilang…
***
Aku berhenti menjadi sahabat Diyar. Dalam arti yang begitu naïf. Tidak menggubris teleponnya, tidak bicara dengannya, tidak melakukan kontak apapun. Kami hanya saling berpapasan mata di kampus, di jalan raya, kalau kebetulan berada di satu jalur yang sama. Dia melihatku, aku melihatnya, lalu buru-buru menghilang di kerumunan. Jelas, aku merasa kehilangan. Tidak ada lagi Diyar yang biasanya menungguku keluar kelas. Tidak ada lagi bangku di koridor kampus yang terisi oleh kami saat sibuk menyiapkan tugas. Aku dan Diyar menghilang dari peradaban kebersamaan kami.
Suatu kali kulihat dia dan Ning di lorong kelas. Bicara dengan sangat serius. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sekelebat mata mereka menangkapku, dan aku tak mampu mengelak. Ning lalu pergi, begitu juga Diyar.
Aku harus berusaha keras mencerna semua ini. Mulai menggali semua kenangan dan perasaan. Tentang kesungguhan dan keindahan. Sejak pertama bertemu, aku dan Diyar seakan terhipnotis untuk bersatu. Semua hal kami kerjakan berdua. Dia bagai pelindungku. Dia begitu baik, begitu tulus. Sesungguhnya, aku sudah mampu menebak jika suatu saat nanti perasaanku akan berubah menjadi lebih kepadanya. Tapi, aku selalu mungkir, aku selalu berpikir itu nanti, dan aku tak kan terpengaruh. Kalau saja Diyar tak pernah jatuh cinta pada Ning…
Mengingat mereka berdua di pertemuan waktu itu, hatiku sedikit lega. Setidaknya, nasipku tidak seperti Ning. aku tidak harus menanggung beban mencintai seseorang tapi tak bisa memiliki, ah, maksudku, toh Diyar tidak mencintai aku, jadi pada hakikatnya sakit hatiku ada pada level kedua, ketiga atau seterusnya. Tapi, bila kupikirkan persahabatan aku dan Diyar. Hatiku jadi miris. Aku tidak ingin kehilangan kebersamaan itu. Dan, di manakah level persahabatan itu? Aku tetap menyanjungnya lebih tinggi dari segalanya.
Tiga minggu berlalu, aku dengar Diyar sakit. Dia tidak masuk kampus. Di mana Ning? kenapa tidak perduli, ada kesal menyelusup. Mengingat Diyar sakit, aku sangat ingin menjenguknya, tapi mengingat rasa maluku, niatku jadi urung. Aku tetap tidak datang ketika Diyar masuk rumah sakit. Aku benar – benar sahabat yang buruk. Hmm, apa dia masih ingat aku sahabatnya?
***
“Ness, kamu gak jenguk Diyar di rumah sakit?” Tanya Dandi di suatu siang.
“Diyar sakit apa, sih?”
“Ya, ampun, kamu yang dekat dengan dia aja bisa gak tau…” Dandi menyindirku.
“sakit maag, kan?”
“dengar-dengar sih, hepatitis!”
“Apa?”
“Iya, kronis..”
Demikian kagetnya, hingga aku harus merasai bahwa aku masih bernapas.
“masih nggak mau liatin?”
“Kamu kok sinis gitu? Seakan-akan kalau Diyar sakit aku penyebabnya?”
“Memangnya bukan?” Dandi balik meninggikan suara.
“sebenarnya ada apa, sih? Kenapa kalian yang biasanya kompak jadi gak sering sama? Gara-gara kamu, Diyar jadi ikutan ketus sama aku tau!”
“Maksudnya?”
“Ya, biasanya kalo kalian kompak, aku jadi gampang minta pinjam tugas, sekarang, apa-apa nanya nessa, sedikit-sedikit Nessa. Kalo mau punya masalah, jangan sampai merugikan orang lain, donk…” Dandi mulai ngelantur. Aku melongos lemah.
“Dia udah pulang ke kosannya kok,”
“Lho, katanya sakit, baru masuk rumah sakit, kan?”
“sama aja, penyakitnya gak bakal tertolong, jadi dia minta pulang..” tandasnya, dan dia langsung pergi.
***
Aku menangis sejadi-jadinya. Bingung, resah, tidak tahu harus berbuat apa. Sampai di titik ini, aku sangat rindu padanya. Sahabatku, atau entah siapapun dia. Aku tidak ingin berakhir seperti ini, tapi aku harus bagaimana? Aku dan Diyar sudah bersama tidak hanya dalam sekejap cerita, dan aku semakin menyesali kebaikannya harus kuartikan seperti ini dan aku telah menolak persahabatannya. Seketika, aku tidak lagi memikirkan tentang harga diri, gengsi atau rasa malu. Aku hanya ingat satu hal, aku tidak ingin Diyar pergi. Aku tidak ingin Diyar mati! Tiba-tiba aku jadi sangat ingin bertemu dengannya. Aku menyesal sudah menghindarinya. Aku tidak mungkin menepisnya. Sebagai sahabatku, meski harus dengan wajah menunduk. Aku harus menemuinya.
Aku datang ke kost-annya. Tapi Diyar tidak mengacuhkanku. Tidak pula melihat ke wajahku. Dia diam saja. Bubur ayamku yang biasanya menjadi favoritnya manyun di sudut meja. Diyar benar-benar tidak perduli. Rasa malu dan sedih mulai kembali menyergapku. Wajahku memerah.
Diyar yang hanya ber-oblong ria membalikkan badannya, tidak menatapku sama sekali. Tapi, di wajahnya aku melihat kesedihan dan kepasifan yang bercampur satu.
“Aku minta maaf, Diyar, kalo kamu marah…”
“Aku datang, karena aku tau kamu sakit.”
“Maaf karena tidak pernah berusaha untuk menghubungimu”
Diyar masih diam. Aku menjejali pandanganku dengan tubuhnya yang terlihat sedikit kurus, berwarna pucat. Di meja komputernya ada plastik putih obat dari apotek.
“Ya, aku tau, kamu benci aku sekarang, kan? Aku udah merusak persahabatan kita. Tapi kamu selalu bilang padaku kalau aku cengeng, gak dewasa, nggak berani tanggung jawab..., makanya, aku datang.., Aku mau minta maaf.”,Jelasku.
"akulah yang salah, terlalu merasa, sejujumya aku juga nggak ngerti knapa aku ini, aku harus gimana supaya kamu memaafkan aku?”
“Kamu itu gak pernah berubah..plin plan!” Sambut Diyar setelah sekian lama.
“Ya plin plan!'
Aku menatapnya dengan pandangan yang tidak mengerti.
"Dulu, kamu bilang salahku, sekarang jadi salahmu, itu namanya plin plan, kan?"
“Ya, karena aku sudah berpikir, itu gak sepenuhnya salahmu, aku yang merasa dan dibuat buta oleh perasaanku dan nggak seharusnya aku menyalahkan semua itu ke kamu.”
“Dasar bodoh!” celetuknya.
“Aku memaafkan kamu karna gak menjawab telpon, dan karna baru mengunjungiku sekarang. Tapi, aku gak bisa memaafkan sikapmu yang plin plan itu. Apa kamu pikir aku gak bisa berpikir? Lantas kamu gak memberi aku kesempatan?”
“Maksudnya apa?” tanyaku semakin bingung.
“tiga minggu aku berusaha bicara denganmu, meluruskan persoalan atau apapun namanya. Kamu terus menghindar, bahkan pura-pura tidak ada di rumah, padahal sepatu ketsmu saja masih hangat. kamu pikir aku nggak tau? Aku sampe pegal menunggumu untuk sekedar menjawab telponku, membalas smsku…apa susahnya berbaik hati sedikit kepadaku?” Diyar mengeluarkan isi hatinya, dan aku hanya bisa pasrah menerima hukuman dari sikap kekanakanku.
“Sekarang harus bagaimana?” tanyanya.
“kita berbaikan? Begitu maksudmu?”
Aku tidak tahu harus bicara apa. Wajahku memanas.
“Iya, iya! Aku ingin kita baikan..aku ingin kita kembali bersahabat.”
“Gak bisa! Sudah terlambat!”
Aku terbata. Pikiranku terkunci. Kata-kata ‘sudah terlambat’ itu sangat menakutkan.
“Diyar, jangan mati!” ucapku spontan. Disertai air mata yang menyerbu. Aku sesegukan, membenamkan kepalaku di dua lututku. Reflek Diyar mendekat. Ditepuknya tungkai kakiku.
“Hei..ada apa ini? Siapa yang mau mati?” Diyar mengangkat kepalaku. Aku melihati wajahnya yang sangat kusuka, dan semakin tak berdaya mengingat entah berapa lama lagi aku akan bisa menatapnya sedangkan tiga minggu itu telah berlalu dengan sia-sia saja.
“Maafkan aku, ya, aku janji, aku akan merawatmu dengan baik. Aku akan melupakan semua kejadian itu. kamu bisa mengandalkan aku…aku sudah tau semuanya dari Dandi, sekarang yang penting, kita kembali ke dokter, aku gak mau kamu mati, Diyar…” aku masih berurai air mata. Dengannya yang menatapku begitu aneh.
“Hei, dengar ya,…yang mau mati siapa? Dandi ngomong apa?” Bola mata Diyar seperti akan menerkamku dengan rasa tak mengertinya.
“Kamu sakit parah, gak bisa tertolong lagi..” kataku masih terbata. Tapi, Diyar malah tertawa keras.
“hei, kenapa?” kudaratkan kepalan tanganku pelan di lengannya. Aku mulai tak sabar melihatnya menjadikan air mataku lelucon.
“Sudah-sudah, mana bubur ayamnya, aku mau makan bubur ayam kesukaanku!” Diyar menyerbu rantangan di sudut meja. Dia masih tersenyum.
“Hmm, Dandi memang sudah mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik. Buktinya bubur ayam ini, akhirnya nyampe…” Diyar melirikku.
Kali ini, tinju kembali mendarat di lengannya, tapi yang ini lumayan keras.
“Jadi kalian, mempermainkan aku?”
“Hahahah…”
“Diyar! Itu sama sekali nggak lucu!!” aku beranjak dari dudukku. Ditangkapnya pergelangan tanganku.
“Sumpah, aku gak tau apa yang Dandi bicarakan denganmu, Ness. tapi, tadi pagi dia datang, pusing tujuh keliling dengan tugas kampus, aku bilang kamu mungkin sudah selesai, dan dia mau menemuimu. Aku pesan saja, aku ingin bubur ayam dari Nessa. Cuma itu.” Diyar mendaratkan kembali dudukku di sampingnya, beberapa lama saling tatap, dan aku tidak bisa untuk tidak ikut tertawa.
“Aku gak tau,kamu bisa sesayang itu ke aku..” disenggolnya bahuku dengan bahunya.
“Ah, itu karna beritanya yang menyeramkan begitu! Hanya untuk kamu tau ada juga yang sedih, kalo nggak kamu bakal mati dengan kecewa” elakku.
“jadi, kamu mau aku mati?”
“Ah, ngaco..” tepisku. Kami sama-sama diam lagi.
“Aku ingin makan buburnya…”
Aku tersenyum. Di sela-sela suapannya.
“Aku pikir, kita berdua salah" katanya.
“Kita yang mengaburkan makna persahabatan ini”
“Kita? Wah, aku nggak setuju kalau kamu menyalahkan aku untuk mengaburkannya" protesku.
“Kalau aku terlalu ge-er, aku bisa terima. Tapi, aku nggak pemah berubah terhadapmu, justru kamu yang yang bersikap aneh, cuek, dan seakan melarikan diri dari aku. Buktinya, kejadian di kantin, knapa membentakku?”
“Heran, ya, kamu selalu perhatian kepadaku. Kamu juga yang paling tau tentang aku, dan setiap dugaanmu selalu benar…”
“katamu, aku, kan sahabatmu yang paling baik” sindirku.
“Itu terialu berlebihan!'
“Tunggu dulu! Yang berlebihan itu adalah menelponku malam-malam, dengan nada memelas mengatakan kamu tidak bisa tidur, karena kangen padaku, karena seminggu nggak ketemu dan setiap waktu ingat untuk menanyakan keadaanku. Bukannya kita yang membuat kita jadi saling bergantung? Lalu……….”
"Sudahlah..."potongnya dengan nada memelas.
“Ya, sudahlah, aku pun malas membahasnya..." kataku mengiyakan.
“sayangnya aku bukan Ning, ya?” sindirku lagi.
“Ya, nih, aku lagi kesal, aku mati-matian mengejar yang lain, tapi selalu kamu yang aku temui...”
“Diyar...”ucapku tak percaya. Aku menggelengkan kepalaku, tidak habis pikir dengan apa yang dikatakannya. Rasanya ingin kembali lari dan membenamkan muka. Tapi, dia malah tersenyum. Matanya demikian bulat membola.
“Nes..., benar kamu mencintai aku?” tanyanya kembali.
Kutantang matanya tanpa niat untuk menjawab. Dia baru saja selesai menghinaku dan sekarang ingin aku berkata bahwa aku cinta padanya? Apa dipikimya aku sudah gila?
“Lho, kok, gak dijawab? Aku sekarat nih…”
“Kamu baru aja melahap setengah porsi bubur ayamku, mana mungkin sekarat!”
“Hahaha…” tawanya berderai.
“I love you, Nessa..” dikecupnya keningku tanpa aku sempat berkilah. Keningku berkerenyit. Tidak tahu harus merasa apa. Mana yang lebih terasa, bahagia atau kaget?
“Hei, kok, malah bengong? Perasaanmu udah berubah ya?” tanyanya. Mukanya menahan bingung.
“Hei..” diguncangnya pundakku. Diyar makin tak mengerti dengan reaksiku yang tanpa reaksi.
“kayaknya kamu harus ke dokter” akhirnya aku bicara.
“kenapa?”
“buat ngebenerin jalan pikiranmu”
“kamu ini aneh!” tudingnya.
“Kamu yang aneh! Kenapa tiba-tiba jadi berubah begini kepadaku? Kamu kasihan sama aku?”
"Siapa yang kasihan padamu? Aku kasihan sama diriku sendiri, karena gak menyadarinya selama ini”
“gak, ah, aku udah nyaman dengan hubungan kita sekarang…”
“Nessa, perasaanmu benar-benar udah berubah ya?”
aku diam saja.
“kamu kuatir dengan Ning?”
deg. Jantungku berdegup, disebut nama itu, membuat rasa cemburuku kembali berdenyut.
“Gak pernah terjadi sesuatu antara aku dan Ning. aku hanya datang sedikit terlambat. Tapi, tidak kali ini, Ness, aku gak ingin terlambat untukmu”
“kamu pikir stasiun kereta?” kilahku.
“kenapa sih, bicara denganmu bisa jadi sesulit ini?”
“tapi tidak serumit menyadarkan perasaanmu, kan?”
diyar menghembus nafas.
“ya, aku salah, baiklah, ayo!” ditariknya tanganku.
“mau kemana?”
“mau ke dokter!”
“buat apa?”
“aku mau operasi kepala, biar lain kali aku tidak akan tulalit lagi menyadari kasih sayangmu!”
diapitnya lenganku, dia benar-benar berniat pergi ke dokter keliatannya. Dan, aku tidak mampu untuk menahan tawaku lebih lama.
“Nah, sekarang malah kamu yang ketawa, kalau begitu, kita operasi berdua ya!”
Kami, akhirnya, sama-sama tertawa. Ditariknya kepalaku ke dadanya. Merasakan hangatnya cinta dalam gerai tawaku dan dia.
Aku menggeleng tak percaya. Inikah akhir itu? Aku tidak mengerti, sampai detik ini pun kerap masih bertanya-tanya, seperti inikah harusnya? Diyar menolehkan pandangannya menuju wajahku, meriyaki kedua mataku, tersenyum kepadaku dengan jemarinya yang lembut menggenggam jemariku, memakuku di sampingnya. Diyar, aku benar-benar tidak mengerti, pada wajahnya aku mematung. Merayapi wajah milik cinta itu…
(My bedroom, 3 september 2003)
Aku telah lama menantikan, seseorang datang dan berkata, Engkau masih orchid ungu-ku. Tapi, pada akhirnya, aku menemukan seseorang berkata, Akhirnya kau hadir untukku, Orchid. Setelahnya, aku menyadari, itu hal terindah yang pernah kudengar.... Lebih dari kata-kata yang kubayangkan sendiri. Kehadirannya adalah sejuta orchid itu dan aku mekar di antaranya...........
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment