
--Menunggu Pagi--
Aku memulainya dengan selamat pagi, dan matanya mengerjap, selamat pagi juga bungaku…dan, sejak saat itu, aku jadi bunga kecilnya yang terselip di sudut hatinya. Hmm, mungkin yang paling sudut, atau di tempat yang paling tidak bisa dideteksi masa…
Setiap pagi aku habiskan untuk menunggu baris-baris smsnya. Tapi, seperti biasanya juga, sms itu tidak pernah sampai, saat aku tidak tahan lagi dan mengirimkan rinduku dengan sepatah kata..selamat pagi…….
Demikian setiap paginya, aku terbiasa bangun dengan harapan pagi ini, dia akan ingat padaku, seperti setiap paginya aku teringat padanya….pada setiap pagi yang dingin, yang membasuh wajahku dengan kerinduan akan sapanya….kata orang, kau akan tau sejauh mana cinta seseorang padamu bukan dengan ucapan selamat malam, tapi, selamat pagi. Ketika engkau menerima sapaan ini, maka engkaulah yang diingatnya setiap matanya terbuka….bukankah itu sangat indah? Aku tersenyum, ya, seperti aku ingat padanya setiap kali mataku terbuka di pagi hari…dan terus berkata, yap, aku telah lewatkan satu malam dan semakin cepat hari berganti sampai aku kembali dapat melihat dirinya…..
Kukayuh sepeda mungilku yang jenjang. Dengan sebatang anggrek didalam pot mungil berisi arang dan sabut. Tersenyum kecil melihat batangnya yang rapuh berayun ke kanan dan ke kiri lantaran terbawa kayuhan sepedaku yang kian cepat. Berbelok di tikungan yang landai dan sampailah di depan rumahku…
Kuraih anggrek itu dari dalam keranjang sepeda, batangnya meliuk kian keras seakan masih ingin berada di sana. Aku letakkan dia bergantungan di batang pohon yang nyaris tak berdaun termakan panas matahari. Kelak, ketika musim hujan datang lagi, pohon ini akan kembali rimbun dan cukup teduh untuk menaungi batang anggrekku yang akan berbunga.
Kutunggu sampai pot mungil itu tidak lagi bergerak bersama kawat tembaga keperakan itu. Kusembunyikan sedikit letaknya agar tak terlalu berpapasan dengan matahari. Ketika semua terlihat telah begitu sempurna, aku tersenyum puas.
***
Masa liburanku begitu menyenangkan. Mami membuat makanan kesukaanku setiap hari, mie rebus yang hanya terasa lezat dengan resep mami. Ayah sibuk memikirkan kesehatan si anak manjanya, sibuk bertanya apa yang aku butuhkan? Obat demam atau cukup obat batuk generic saja dan membuat rencana untuk menemaniku check up. Adik perempuanku sibuk dengan cerita-ceritanya dan rencana untuk jalan-jalan mengitari kota kecil ini, membuatkan daftar tempat makan enak yang pasti akan kami kunjungi. Dan si bungsu yang mulai berjerawat dan menikmati suara ABG nya yang mulai pecah. Kesibukanku dengannya adalah saling mencet jerawat. Aku begitu mencintai mereka!
Dan yang paling membuat bahagia adalah rumah baru kami. Rumah ini akan jadi tempat yang paling kutunggu untuk aku kunjungi di setiap kesempatan untuk liburan. Khususnya untuk melihat wajah-wajah terbaik sepanjang masa. Dan lima belas batang anggrek yang bergantungan di pohon depan rumah yang kuharap dapat kulihat bunganya ketika aku pulang kembali suatu kali nanti.
“yang mana yang akan berwarna scarlet ya?” Lova mengerenyitkan keningnya.
“mungkin yang di sudut itu” tunjuk Abel.
“dari sisi mana membedakannya?”
‘feeling saja, karena dia yang paling jelek, seperti kakak” abel tertawa dan mengeliat menerima cubitan lova. Kami tertawa.
Ya, siapa yang bisa tau, batang yang mana yang akan berwarna merah terang, scarlet, ungu atau putih belang…semua terlihat sama. Harapan untuk melihat warna-warna itu, hanya setipis percaya pada apa yang dikatakan si penjual bunga di pasar. Tapi, kita tetap membelinya toh?
Hmm, sama seperti cinta….datang dan memberi harapan, meski tidak tahu harapan itu akan berujung seperti apa, tapi, bukankah debaran dalam menunggu itu yang ditunggu setiap orang? Ya, menunggu akan warna yang muncul dari satu cinta itu…
“dan, aku tau yang mana yang akan berwarna ungu..!”
“Oya?”
“Ya, yang itu!”
“gimana bisa tau?”
“Karena terlihat bandel seperti kakak!”
aku tertawa. Ya, salah satu filosofi anggrek adalah tegar…mungkin sedikit terplesetkan saja dari kata bandel…, hmm….
***
Seminggu berlalu dengan cepat, besok malam harus kembali mulai mengepak barang untuk pulang. Banyak kerjaan menunggu di sebuah kota yang bermakna hati. Aku akan kembali pulang. Karena rumah untuk hatiku masih di sana. Kuliahku, pekerjaanku dan sepenggal hati yang masih menunggu untuk berwarna. Pulang dan pergi sama menariknya untukku. Karena kata itu tak pernah terlalu berbeda. Pulang dapat berarti di kota kecil ini pada keluargaku dan pulang juga yang dapat berarti menuju kembali pada yang belum akan selesai. Hidupku di sana.
“mami takut dia belum cukup tegar untuk kembali kesana sendirian, yah”
mendengarnya membuatku terenyuh. Tak ingin berlama-lama mendengar, aku telah berdiri di hadapan mami. Wanita terhebat sepanjang sejarah hidupku.
“mami, aku anakmu yang paling manja, tapi aku juga yang paling keras kepala. Mami tau itu, kan? Jadi, percayalah, Aku akan baik-baik saja, mam. Setiap jalan ini telah kupilih, sekarang saatnya memberi kesempatan aku untuk sembuh dengan cara yang benar. Mami, aku ingin sembuh sendiri, dengan dunia yang mungkin akan amat pahit saat ini, tapi mam, aku akan bisa bertahan, aku punya hati sama seperti yang mami punya, jadi aku akan baik-baik saja”
mami tersenyum. Didekapnya aku dengan kuat, begitu lama. Hingga air mata kami sama-sama menggenang.
***
Akhirnya aku benar-benar akan pergi atau pulang…
Dengan bus yang dipenuhi asap rokok, yang membuatku terbatuk-batuk dan menahan geram. Dengan hujan yang tiba-tiba turun dan AC bus yang bocor dan tidak bisa kumatikan. Di dalam jaket jeansku aku memeluk lenganku sendiri. Mencoba tertidur.
Ketika kuijinkan semua anggota keluarga pindah, aku masih memiliki seseorang dan merasa sangat siap untuk memulai sesuatu yang baru dan hidup. Terhipnotis dengan dunia baru yang melindungiku dengan cinta dan hal-hal baru yang begitu excited! Mencintai seseorang dengan sebuah komitmen pada keabadian. Seluruh kebahagian yang dibayangkan orang sedunia bertaburan memenuhi duniaku yang membuat iri tiap pasang mata. Seorang laki-laki yang tampak begitu mencintaiku, pekerjaan baru yang menyenangkan, skripsi yang menunggu ACC dan teman-teman yang penuh keceriaan. Saat-saat itulah, saat sebuah luka tidak dapat lagi terobati dan hati berubah dingin. Meredupkan jalan-jalanku yang biasa berwarna, soulmate yang menjadi seonggok daging tak berhati. Menohok dadaku begitu dalam, meruntuhkan rasa percaya diriku dan harapan-harapan yang hanya tinggal menunggu sentuhan warna terakhir. Ini yang harus aku hadapi. Dan, kini aku harus kembali, menunggu waktu membuat keadaan membaik dan menemukan kembali warna yang hilang atau menikmati warna yang ada.
Aku sudah melewati jalan panjang, tidak mungkin kembali dan tidak pernah ingin mengulang. Dalam pencarian terhadap batas-batas keindahan yang terkadang begitu naïf dan semu. Aku masih begitu muda, dunia ini belum pula terlalu tua untuk tidak bisa tersenyum. Tentu saja dia masih bisa.
Optimisme itu terus mengalir dalam denyut jantungku. Sebuah warisan keluarga akan wujud ketegaran. Maka, ketika pagi ini aku terbangun, aku berhenti meng sms seseorang itu, aku biarkan dia merindukan aku. Hmm, benarkah? Hmm, tidak tau juga, mungkin, salah satu langkah proteksi hati. Tapi, kelak jika aku jatuh cinta kembali, aku ingin hati ini sudah siap menerima ketulusan. Bila saat ini masih luka, mungkin besok akan sembuh, atau mungkin besoknya lagi, atau berhari-hari dan berabad-abad lagi……..
Dengan mataku, senyumku dan jutaan sapaan yang terus mengalir dari mulutku, aku mengitari ruang-ruang kantorku yang sunyi dan lengang…..masa liburan yang belum berakhir dan sepi yang belum menghilang……wajah yang kutunggu belum muncul, hanya ruang mungil dan tuuts keyboard computer yang menyala hijau kuning…..dihadapkan pada dua pilihan, haruskah berpaling atau meneruskan langkah?
Kupilih yang kedua…….hingga kutemukan ungu jingga yang begitu indah di screen computer yang menyala….setangkai anggrek yang mekar penuh ,aku terhirup dengan hebatnya….kini tidak hanya di satu screen itu tapi di setiap langkah yang aku teruskan…..di setiap bagian ruangan dimana screen menyala tak berkedip…..
“sepertinya taman bungaku lebih cepat mekar daripada di tempatmu…”
aku menoleh pada suara indah itu,
“anggrekku tidak perlu menunggu musim hujan untuk mekar……” sambungnya lagi dengan senyum mengembang.
Dan, pagi itu adalah pagi paling indah dalam hidupku….
Kini, setiap pagi aku tidak lagi menunggu sms atau mengsms selamat pagi pada seseorang itu…..karena, sebuah kecupan akan selalu mendarat di pipiku dengan kata..”selamat pagi, cinta…..” dan mataku dengan manja terbuka, menyadari hari yang telah berganti, dengan matahari yang baru……
The only orchid
29’01’06