Aku telah lama menantikan, seseorang datang dan berkata, Engkau masih orchid ungu-ku. Tapi, pada akhirnya, aku menemukan seseorang berkata, Akhirnya kau hadir untukku, Orchid. Setelahnya, aku menyadari, itu hal terindah yang pernah kudengar.... Lebih dari kata-kata yang kubayangkan sendiri. Kehadirannya adalah sejuta orchid itu dan aku mekar di antaranya...........

Tuesday, July 11, 2006

kekasih?

aku lupa rasanya dimanjakan seorang kekasih,
aku lupa rasanya diberi keteduhan,
aku lupa rasanya diberi cinta dan ketulusan...
aku lupa rasanya menerima cinta,
aku lupa rasanya memberi rindu...
aku lupa rasanya mencintai,
aku lupa rasanya menyayangi...
aku lupa rasanya dianugrahi kesetiaan...
aku lupa...
aku lupa pada bahagia atas nama cinta!

aku ingat rasanya sakit hati...
aku hapal rasanya patah hati...
aku tau rasanya ditinggalkan dan meninggalkan...
aku tak kan lupa rasanya dikhianati...
aku tak kan pernah memafkan rasa pengkhiantan!
tak kan pernah kumaafkan!
dan semoga kau membusuk di neraka hingga akhir hidup jiwamu!!
tak kan kumaafkan sebanyak air mataku yang tumpah!!!
tak kan pernah!

Monday, July 10, 2006

sejengkal hati

kejenuhan luar biasa!
menemukan permasalahan ternyata tidak segampang yang aku perkirakan...itu terbukti ketika, suatu hari aku terbangun dari tidur dan menemukan semua yang aku rasakan benar-benar berbeda dari hari-hari kemarin...aku gelisah luar biasa, merasa bosan, merasa tidak berarti..aku berasumsi bahwa pekerjaankulah yang mulai terasa membosankan. monoton dan tidak ada variasinya. aku menjadi sedih sekali...aku coba bicara dengan temanku tapi tidak ada perbaikan, hingga kuputuskan untuk menemui atasan langsungku. satu pertanyaannya yang membuatku terperangah, katanya : "Apa yang kamu mau?"....aku bingung harus menjawab apa...atau aku malu?
berhari-hari aku memikirkannya...dan terfokus pada kenyataan bahwa untuk menyelesaikan persoalan, aku harus tau persoalan apa yang aku hadapi!
aku ingin pekerjaan yang berbeda. lalu, aku memberikan aplikasiku ke atasanku untuk sebuah posisi dengan gaji 2,5 x gajiku saat ini, dan pekerjaan yang akan mengkritik pekerjaan orang lain. lumayan menantang....tiba-tiba, aku ditawari posisi baru yang membuatku langsung jatuh cinta...posisi yang memberiku kesempatan untuk belajar dan menggali ilmu...tapi, coba bayangkan kenyataannya...posisi itu kemungkinan untuk terus ada hanya selama masa program ada, beberapa bulan saja. lalu selesai, dan posisi itu tidak dibutuhkan lagi...menerima kenyataan itu membuat lidahku kelu, dan semangat belajarku sedikit terbang...aku kembali gelisah..kubayangkan, posisi yang aku tempati saat ini akan berakhir kontrak setengah tahun lagi dan aku sudah pasti akan dapat royalti atau bahkan perpanjangan kontrak hingga program kerja berakhir, kurang lebih setahun lagi dari masa kontrakku selesai...aku limbung, antara ilmu dan uang...aku tidak munafik, aku juga butuh peningkatan secara finansial. saat ini pengeluaranku membengkak untuk pengobatan yang sedang aku jalani dan aku terlihat sangat memaksakan diri untuk bisa berlibur ke luar kota...demi tujuan yang baru aku temukan. belum lagi tanggung jawab yang luar biasa besar yang akan aku jalani dengan posisi baru itu...dengan grade yang sama saja dengan sekarang. dilematis...apa yang harus aku lakukan, aku tau...tapi bagaimana caraku menolak, aku sungguh tidak tau! aku ingin pekerjaan ini! tapi aku juga ingin semua setimpal dengan apa yang aku mau, nama baik dan peningkatan financial...aku merasa buntu...sementara itu, saat semua belum jelas, aku sudah harus mulai menjalankan aktivitas di posisi yang baru, bagaimana ini?
jadi, kembali kepada pertanyaan atasanku tentang apa yang aku mau..aku tau apa yang aku mau, aku hanya tidak tau caranya menolak apa yang aku tidak mau...


Sunday, July 09, 2006

aku dan ayah


aku dan ayah, hmm..bagaimana cara menjelaskannya, ya...?
bagiku, ayahku adalah sosok ayah terbaik di dunia ini..ya, aku tau dia tidak sempurna, tapi, kebaikannya terhadap keluarga, membuatku menominasikannya sebagai lelaki terbaik di sepanjang umurku...

ayahku dan cita-citanya adalah kesederhanaan...ayahku dan kehidupannya adalah penikmatan terhadap kehidupan...kesetiaannya melampaui kekuasaan langit...

ayah, ga ada yang sehebat dirimu dalam menyayangi aku...belum ada yang sekuat dirimu, membela aku..belum ada yang selembut dirimu mengasihi aku dan gak akan pernah ada yang akan membahagiakan aku sebesar kasih sayangmu....dan gak akan ada pengorbanan sedalam ketulusanmu kepadaku.............

--tentangmu--
ayahku itu lucu...semalam, aku minta minta izin melalui sms...kataku: "ayah, kakak ingin sekali nonton final piala dunia sepak bola nanti sama teman2 kantor yang cowok..boleh yah?kakak sih pengen, daripada nonton sendiri...tapi terserah ayah, kalo boleh, pergi, kalo gak ya udah, nonton di rumah ayah..gimana yah?" trus, ayah balas: "ya, boleh...asal besok pagi gak telat bangun ngantor.." gitu aja...hmmm, berarti di kasih...aku menunggu temanku menjemput...tiba-tiba...ayah menelpon..."halo..(sambil dengan tawanya yang khas), kami nonton juga neh, layar lebar..." --"ah, enaknya" kataku--"layar lebar dimana?"--"di rumah hahaha (aku ikut tertawa)" --"iya, neh, yah, kakak lagi tunggu dijemput, kalo gak dijemput ya udah di rumah aja nontonnya" --"mudah2an nggak usah dijemput ya hahahah (ketawa ayah keras sekali).."--aku ikut tertawa...hahah, dan aku langsung mengsms temanku dan membatalkannya...abis ayah walaupun dia mengizinkan tapi di hatinya sebenarnya kuatir sekali. so, kekuatiran ayah buatku adalah segalanya!

--dulu sih aku lebih bandel dari ini--
hehehe, aku pernah dibilang pembangkang...pemberontak..soalnya dari kecil hobiku adalah mengkritik kebijakannya..hehehe...adikku yang cowok sangat dimanjakannya...aku adalah si pemberontak cilik waktu itu...aku juga paling keras kepala di antara semua anak ayah yang cuma tiga orang ini...aneh memang, padahal muka kami paling mirip, aku mewarisi jidat ayah yang lebar, bibir ayah yang tipis, alis ayah yang lebar dan teratur, bahkan, tahi lalat di bawah mata kiri ayah persis nempel di bawah mata kiriku..ajaib sekali...

dulu, aku selalu berpikir, kenapa aku dan ayah susah akur...maunya sewot-sewotan..setelah lama-lama dipikir, aku seperti cerminan ayah, keras kepala dan unsur nekat dalam diriku adalah made in ayah...aku sering punya pikiran pendek...sama kayak ayah...heheheh...
tapi, untuk semua baik buruk ayah, aku mencintainya!

pilihan-pilihan

pilihan bertaburan di satu media bernama ruang
kutatapi satu-satu...
dia datang lalu pergi
ada lagi hadir lalu hilang
satu...persatu...
sebanyak buih yang mencium kaki pantai

perjalananku terhenti sesaat pada sebuah tatap mata
dan sekelopak parau rasa
coba reka sekelumit yang tertoreh
juga denting pada sebuah jeda
di suatu kali....
dan pada saat lain..
juga detak yang lainnya

kutunggu sejenak untuknya
kuhentikan waktu sesaat untuk hadirnya
tapi, ah...
sejumput keinginanku tak jua merekah

aku merasa perdulinya tersemai bergantian dengan ketakpedulian
aku merasa langkah-langkah hatinya maju tersurut, maju dan tersurut kembali
riak di keningnya berpautan dengan ragu dan keresahan..
bibirnya terlalu takut untuk terbuka...
dan rasa hanya tersangkut di balik jemarinya yang tetap terkatup...
dan enggan meraih...

ragunya menularkan ragu
melebar di ketujuh lapis langit...

(sampai kapankah?) – 28 juni 2006

orangeku

--Masih untuk dealova--

Dia hadir dalam sekelumit candaan yang tak jelas dan telah mengubah hatiku menjadi berbunga….
Entah bagaimana
Terasa egois dan ingin marah ketika tau bisa saja itu semua hanya cinta dalam sebuah lokasi

Aku sudah begitu baik menerimanya dalam duniaku
Maka wajar bila sakit hati ketika tau di wajahnya
Aku Cuma penyedih yang sedang berduka
pikiran gerah dan hati terkoyak dua kali

Tapi ternyata itu saja belum cukup bodoh tuuk membuat pendapatku lebih jelas terlihat bodoh
Kekagumanku senantiasa tertancap padanya…
Begitu bodoh

Tapi, ketika kusadari..
Mengapa harus merasa bodoh?
Hmm, mukaku terselamatkan lagi..
Lagi-lagi tuk alasan cinta….
Hmmm……..

22-januari,06
dealova


-tentang-
Jika kelak kita berjumpa lagi di suatu kesempatan
Entah apa yang akan kutangkap lagi dari sorot kehadiranmu
Kadang kau begitu hangat
Kadang begitu beku dan tak beraroma

Dalam setiap kesempatan yang kucari
Hanyalah sebatas sapaan terbaikmu dan
Kerlip harapan , membuat jiwaku teduh
Meski itu semu

Dalam setiap kesempatan yang kucuri
Hanyalah sekelumit perhatianmu
Rayumu tuk geliat jiwaku
Yang muram

Kita tidak akan pernah tau
Sampai kapan rahasia ini tetap menjadi
Rahasia
Bahwa hati ini pun merasa naïf rasa ini
Tidak akan tuk selamanya
Tapi, haruskah kusalahkan rasa
Ketika yang aku tau hanya
Dirimu itu
Dan yang hatiku mau hanya hatimu?
Meski itu hanya tuk saat ini
Dan tegakah tuk mengusirnya pergi?
Sungguh hatiku belum kuat
Tuk kehilangan kembali…
22 January
2006

-- tentang kita--
Ada apa dengan aku?
Ada apa dengan debaranku?
Ada apa dengan rona pipiku
Yang berubah merah jambu?

Ada apa dengan kamu?
Ada apa dengan marahmu?
Ada apa dengan perhatian
Yang jadi kerap nian?

Ada apa dengan dunia
Tanpa kamu kurang ceria
Tanpa aku kurang berwarna
Untuk aku, kamu dan segala warna

Saat musik-musik jadi tak bernada
Tanpa satu celoteh kita
Aku kembali bertanya
Ada apa dengan kita?
(22’02’06)

orangeku


--Menunggu Pagi--

Aku memulainya dengan selamat pagi, dan matanya mengerjap, selamat pagi juga bungaku…dan, sejak saat itu, aku jadi bunga kecilnya yang terselip di sudut hatinya. Hmm, mungkin yang paling sudut, atau di tempat yang paling tidak bisa dideteksi masa…

Setiap pagi aku habiskan untuk menunggu baris-baris smsnya. Tapi, seperti biasanya juga, sms itu tidak pernah sampai, saat aku tidak tahan lagi dan mengirimkan rinduku dengan sepatah kata..selamat pagi…….

Demikian setiap paginya, aku terbiasa bangun dengan harapan pagi ini, dia akan ingat padaku, seperti setiap paginya aku teringat padanya….pada setiap pagi yang dingin, yang membasuh wajahku dengan kerinduan akan sapanya….kata orang, kau akan tau sejauh mana cinta seseorang padamu bukan dengan ucapan selamat malam, tapi, selamat pagi. Ketika engkau menerima sapaan ini, maka engkaulah yang diingatnya setiap matanya terbuka….bukankah itu sangat indah? Aku tersenyum, ya, seperti aku ingat padanya setiap kali mataku terbuka di pagi hari…dan terus berkata, yap, aku telah lewatkan satu malam dan semakin cepat hari berganti sampai aku kembali dapat melihat dirinya…..

Kukayuh sepeda mungilku yang jenjang. Dengan sebatang anggrek didalam pot mungil berisi arang dan sabut. Tersenyum kecil melihat batangnya yang rapuh berayun ke kanan dan ke kiri lantaran terbawa kayuhan sepedaku yang kian cepat. Berbelok di tikungan yang landai dan sampailah di depan rumahku…

Kuraih anggrek itu dari dalam keranjang sepeda, batangnya meliuk kian keras seakan masih ingin berada di sana. Aku letakkan dia bergantungan di batang pohon yang nyaris tak berdaun termakan panas matahari. Kelak, ketika musim hujan datang lagi, pohon ini akan kembali rimbun dan cukup teduh untuk menaungi batang anggrekku yang akan berbunga.

Kutunggu sampai pot mungil itu tidak lagi bergerak bersama kawat tembaga keperakan itu. Kusembunyikan sedikit letaknya agar tak terlalu berpapasan dengan matahari. Ketika semua terlihat telah begitu sempurna, aku tersenyum puas.

***
Masa liburanku begitu menyenangkan. Mami membuat makanan kesukaanku setiap hari, mie rebus yang hanya terasa lezat dengan resep mami. Ayah sibuk memikirkan kesehatan si anak manjanya, sibuk bertanya apa yang aku butuhkan? Obat demam atau cukup obat batuk generic saja dan membuat rencana untuk menemaniku check up. Adik perempuanku sibuk dengan cerita-ceritanya dan rencana untuk jalan-jalan mengitari kota kecil ini, membuatkan daftar tempat makan enak yang pasti akan kami kunjungi. Dan si bungsu yang mulai berjerawat dan menikmati suara ABG nya yang mulai pecah. Kesibukanku dengannya adalah saling mencet jerawat. Aku begitu mencintai mereka!

Dan yang paling membuat bahagia adalah rumah baru kami. Rumah ini akan jadi tempat yang paling kutunggu untuk aku kunjungi di setiap kesempatan untuk liburan. Khususnya untuk melihat wajah-wajah terbaik sepanjang masa. Dan lima belas batang anggrek yang bergantungan di pohon depan rumah yang kuharap dapat kulihat bunganya ketika aku pulang kembali suatu kali nanti.

“yang mana yang akan berwarna scarlet ya?” Lova mengerenyitkan keningnya.
“mungkin yang di sudut itu” tunjuk Abel.
“dari sisi mana membedakannya?”
‘feeling saja, karena dia yang paling jelek, seperti kakak” abel tertawa dan mengeliat menerima cubitan lova. Kami tertawa.

Ya, siapa yang bisa tau, batang yang mana yang akan berwarna merah terang, scarlet, ungu atau putih belang…semua terlihat sama. Harapan untuk melihat warna-warna itu, hanya setipis percaya pada apa yang dikatakan si penjual bunga di pasar. Tapi, kita tetap membelinya toh?

Hmm, sama seperti cinta….datang dan memberi harapan, meski tidak tahu harapan itu akan berujung seperti apa, tapi, bukankah debaran dalam menunggu itu yang ditunggu setiap orang? Ya, menunggu akan warna yang muncul dari satu cinta itu…

“dan, aku tau yang mana yang akan berwarna ungu..!”
“Oya?”
“Ya, yang itu!”
“gimana bisa tau?”
“Karena terlihat bandel seperti kakak!”
aku tertawa. Ya, salah satu filosofi anggrek adalah tegar…mungkin sedikit terplesetkan saja dari kata bandel…, hmm….

***
Seminggu berlalu dengan cepat, besok malam harus kembali mulai mengepak barang untuk pulang. Banyak kerjaan menunggu di sebuah kota yang bermakna hati. Aku akan kembali pulang. Karena rumah untuk hatiku masih di sana. Kuliahku, pekerjaanku dan sepenggal hati yang masih menunggu untuk berwarna. Pulang dan pergi sama menariknya untukku. Karena kata itu tak pernah terlalu berbeda. Pulang dapat berarti di kota kecil ini pada keluargaku dan pulang juga yang dapat berarti menuju kembali pada yang belum akan selesai. Hidupku di sana.
“mami takut dia belum cukup tegar untuk kembali kesana sendirian, yah”
mendengarnya membuatku terenyuh. Tak ingin berlama-lama mendengar, aku telah berdiri di hadapan mami. Wanita terhebat sepanjang sejarah hidupku.

“mami, aku anakmu yang paling manja, tapi aku juga yang paling keras kepala. Mami tau itu, kan? Jadi, percayalah, Aku akan baik-baik saja, mam. Setiap jalan ini telah kupilih, sekarang saatnya memberi kesempatan aku untuk sembuh dengan cara yang benar. Mami, aku ingin sembuh sendiri, dengan dunia yang mungkin akan amat pahit saat ini, tapi mam, aku akan bisa bertahan, aku punya hati sama seperti yang mami punya, jadi aku akan baik-baik saja”
mami tersenyum. Didekapnya aku dengan kuat, begitu lama. Hingga air mata kami sama-sama menggenang.





***
Akhirnya aku benar-benar akan pergi atau pulang…

Dengan bus yang dipenuhi asap rokok, yang membuatku terbatuk-batuk dan menahan geram. Dengan hujan yang tiba-tiba turun dan AC bus yang bocor dan tidak bisa kumatikan. Di dalam jaket jeansku aku memeluk lenganku sendiri. Mencoba tertidur.

Ketika kuijinkan semua anggota keluarga pindah, aku masih memiliki seseorang dan merasa sangat siap untuk memulai sesuatu yang baru dan hidup. Terhipnotis dengan dunia baru yang melindungiku dengan cinta dan hal-hal baru yang begitu excited! Mencintai seseorang dengan sebuah komitmen pada keabadian. Seluruh kebahagian yang dibayangkan orang sedunia bertaburan memenuhi duniaku yang membuat iri tiap pasang mata. Seorang laki-laki yang tampak begitu mencintaiku, pekerjaan baru yang menyenangkan, skripsi yang menunggu ACC dan teman-teman yang penuh keceriaan. Saat-saat itulah, saat sebuah luka tidak dapat lagi terobati dan hati berubah dingin. Meredupkan jalan-jalanku yang biasa berwarna, soulmate yang menjadi seonggok daging tak berhati. Menohok dadaku begitu dalam, meruntuhkan rasa percaya diriku dan harapan-harapan yang hanya tinggal menunggu sentuhan warna terakhir. Ini yang harus aku hadapi. Dan, kini aku harus kembali, menunggu waktu membuat keadaan membaik dan menemukan kembali warna yang hilang atau menikmati warna yang ada.

Aku sudah melewati jalan panjang, tidak mungkin kembali dan tidak pernah ingin mengulang. Dalam pencarian terhadap batas-batas keindahan yang terkadang begitu naïf dan semu. Aku masih begitu muda, dunia ini belum pula terlalu tua untuk tidak bisa tersenyum. Tentu saja dia masih bisa.

Optimisme itu terus mengalir dalam denyut jantungku. Sebuah warisan keluarga akan wujud ketegaran. Maka, ketika pagi ini aku terbangun, aku berhenti meng sms seseorang itu, aku biarkan dia merindukan aku. Hmm, benarkah? Hmm, tidak tau juga, mungkin, salah satu langkah proteksi hati. Tapi, kelak jika aku jatuh cinta kembali, aku ingin hati ini sudah siap menerima ketulusan. Bila saat ini masih luka, mungkin besok akan sembuh, atau mungkin besoknya lagi, atau berhari-hari dan berabad-abad lagi……..

Dengan mataku, senyumku dan jutaan sapaan yang terus mengalir dari mulutku, aku mengitari ruang-ruang kantorku yang sunyi dan lengang…..masa liburan yang belum berakhir dan sepi yang belum menghilang……wajah yang kutunggu belum muncul, hanya ruang mungil dan tuuts keyboard computer yang menyala hijau kuning…..dihadapkan pada dua pilihan, haruskah berpaling atau meneruskan langkah?

Kupilih yang kedua…….hingga kutemukan ungu jingga yang begitu indah di screen computer yang menyala….setangkai anggrek yang mekar penuh ,aku terhirup dengan hebatnya….kini tidak hanya di satu screen itu tapi di setiap langkah yang aku teruskan…..di setiap bagian ruangan dimana screen menyala tak berkedip…..

“sepertinya taman bungaku lebih cepat mekar daripada di tempatmu…”
aku menoleh pada suara indah itu,
“anggrekku tidak perlu menunggu musim hujan untuk mekar……” sambungnya lagi dengan senyum mengembang.
Dan, pagi itu adalah pagi paling indah dalam hidupku….

Kini, setiap pagi aku tidak lagi menunggu sms atau mengsms selamat pagi pada seseorang itu…..karena, sebuah kecupan akan selalu mendarat di pipiku dengan kata..”selamat pagi, cinta…..” dan mataku dengan manja terbuka, menyadari hari yang telah berganti, dengan matahari yang baru……

The only orchid
29’01’06

satu hari ini

jangan panggil aku cinta satu hari ini!
terlalu naif untuk aku menerima...
jangan sebut aku kekasih satu hari ini..
hambar benar rasanya............................

jangan sebut pengagum untuk jiwa mu yang setengah
kasihmu yang setengah
pengorbananmu yang setengah
dan hari-hari cinta yang mulai terasa jengah...
gerah, lelah...

bukan kata-kata indah merayu cinta..
tapi smsmu yang tak terbata...
bukan aku untuk -romeo dan juliet-
tapi, perhatian yang bukan sekedar siluet...

aku butuh kau tanya...
butuh engkau tanggapi semua ceritaku...
butuh gerai halus perhatianmu
dalam rasa yang kau sebut ketulusan..

lemah lembut kata rayu, kuyakini dengan setengah hati...
pikirkanlah caranya membahagiakan aku..
pikirkanlah caranya membuat cintamu dapat menerobos masuk dengan hangat
bukan sekedarnya......dan penuh kesemuan...

ah, bosannya aku pada cinta...
satu hari ini!

Friday, July 07, 2006

sejenak dan untuk selamanya


matahari merah...sore yang hangat...aku mengejar tuts keyboard komputerku lewat jemariku...hari ini, ada yang berarti, ada harapan, ada senyuman...semua serba mendebarkan...meski ada sedikit - sedikit bagian yang terasa kosong, tapi sudahlah, aku belum mau menuntut apapun..........

setelah badai di hidupku mereda...aku tau, akan ada badai lainnya...bisa lebih lembut..atau lebih kasar dan parau...tugasku hanyalah mengayuh gelombang...membawanya hingga ke tepi...dan, saat ini, aku belum ingin menepi........