“Dave..” suaraku menggantung.
“Hmm, Ya?” tanyanya gusar, aku jadi kehilangan kata-kata.
“Ah, bukan apa-apa...” Sahutku pendek, membuatnya menggelengkan kepala. Lalu didatanginya aku.
“I’m gonna be fine...,” bisiknya lembut. Aku menatapnya sekali lagi. Memberi perhatianku pada raut wajahnya yang halus dan memerah tersengat matahari. Lalu turun ke bibirnya yang tersenyum dengan tenang.
“Hanya satu kali summer dan satu kali autumn, masa bisa sekangen itu?” Godanya. Kupukul lengannya yang berlapis t-shirt putih. Pastilah saat ini wajahku telah memerah jua, dia tahu betul aku paling tidak bisa menutupi perasaan. Rona-rona merah jambu akan menyembul di pipiku yang penuh, khas wajah Indonesia yang menjadi favoritnya.
“Pokoknya oleh-olehku jangan sampai lupa, haigh chocolate. Awas kalau lupa!” Rengekku sambil. Pelan ditangkapnya kepalan tanganku dan menggenggamnya. Dave menatapku begitu dalam, begitu lama....Hingga, dilepasnya genggaman tangganya dan bergegas menyuguhkan sebaris senyumnya yang selalu indah.
Terpatah sudah apa yang ingin aku katakan, aku lupa pada setiap kata itu. Entah kemana menghilang semua kata yang ingin aku sampaikan ketika akan menemuinya. Semua jadi gamang, lenyap, membisu. Seperti Dave yang dengan tenangnya tak bersuara, membiarkan aku dan dirinya tenggelam dalam bisu yang biru.
Kuperhatikan saja geraknya membenahi kopor yang terletak di atas tempat tidurnya, tiket dan syal cokelat muda pemberianku yang mungkin bisa menghangatkannya di malam-malam dingin di Adelaide. Sesekali dia melihatku dan melempar senyum, kadang mengedipkan matanya dan menyambung senyum. Tak ada yang bisa aku lakukan, mencoba membantu sepertinya tak ada gunanya, untuk Dave yang begitu terencana.
“Hmm, lapar!” Dave memegang perutnya seraya membanting tubuh ke sofa.
“Hmm, makan mie instant sepertinya asik...”
“Ya, udah masak gih...Aku juga mau...” Kataku memamerkan sebaris gigi. Dave jadi cembetut. Sebetulnya aku sudah tahu, sebentar lagi dia akan merengek minta dibuatkan.
“Tapi, harus mi sop, seperti dulu, dengan bumbu dan rasa yang sama. Persis seperti sepuluh tahun lalu di Adelaide”
“Hah?”
“Masak nggak ingat?” ucapnya penasaran.
“Kapan ya?” Kukerutkan keningku. Hei, aku suka melihatnya sebel.
“Selepas pulang dari kampus dan berpura-pura salju turun padahal itu masih summer yang luar biasa panas dan kita kegerahan melewati jalanan mendaki? Kamu ingat tidak?”
“Lalu, apa hubungannya dengan mi sop?”
“Hmm, benar-benar lupa, ya?” Aku mengangguk.
“Sampai di rumah, kamu masak mie sop yang enak banget!”
“Oh ya?” Kataku pura-pura mengingat.
“Masak sih kamu lupa momen seperti itu?”
“Memangnya penting, ya?”
“Ya, pasti...Itu, kan pertama kali kamu masak buat aku...”
“Ooo” Kubuang pandangku sambil mengulum senyum. Tentu saja aku masih ingat, selamanya ingat.
Tiga kali pergantian setiap musim di Australia, di kota kecil bernama Adelaide, aku dan Dave pernah menyusuri jalan kecil berbukit, berjalan kaki selama dua puluh menit pulang dari Flinders University....... Mencari buku dan mempersiapkan presentasi. Merasakan kantuk saat masih harus bergadang menyusun tesis di akhir semester kuliah. Aku tinggal tepat di seberang rumahnya.
Dave warga negeri kangguru itu, namun sebagian darah di tubuhnya asli Jawa, dia bahkan fasih berbahasa Jawa, yang bak mata kuliah wajib bagi neneknya yang masih kental dengan adat-istiadat. Sahabat sejati. Itulah janji kami waktu itu, hingga degup-degup itu terasa, mengalir melewati bilur jiwa dan hati, menamatkan janji semusim. Di sebuah malam culture dinner, saat berdansa dengannya, pertama kali keningku disinggahi hangat kecupnya.
“Hei, kenapa melamun?”
“Siapa yang melamun?”
“Kamu..”
Aku menggeleng saja.
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Tidak ada”
“Dengar, ya...Aku sangat mengenalmu, you can’t lie..., apalagi padaku. Karena hidung pinokio ini!” Ditariknya hidungku yang muncul pas-pasan.
“Auuucchh!” Teriakku, diikuti gelak tawanya.
“Ayo, aku ingin mie....”
“Oke...Oke...”
Tubuhku berhambur menjauh dari sisinya. Memotong bawang sambil menangis, mengiris tomat sambil sesekali mengiris kuku sendiri tanpa sengaja, terakhir, membujuk Dave untuk memanaskan air. Aku tidak suka masak, entahlah apa yang akan terjadi jika jodohku adalah tipikal orang yang mewajibkan istri untuk memasak setiap hari. Sementara, aku alergi bumbu, alat-alat dapur selalu menyisakan luka di jari-jariku. Rahasia yang hanya Dave yang tahu. Hmm, coba saja nanti kalau aku menikah dengannya, aku tak perlu memasak seumur hidup karena Dave jago masak, kecuali kalau aku ingin. Dan, setiap masakanku adalah yang spesial baginya..., karena dia yang paling tahu pengorbananku di dapur. Hmmm....menghayalkan semua itu, alangkah bahagia.
Tamat kuliah, aku kembali ke Indonesia. Lulus pegawai negeri dan bekerja di sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan. Dave tidak pernah lupa mengirimi aku kartu bergambar bunga matahari yang datang setiap bulan. Dia selalu mengatakan mataku bersinar seperti matahari. Sebuah alasan yang sangat merayu...
Hmmm,..sebenarnya, kurangkah semua sinyal cinta itu? Namun tetap saja, aku tak pernah bisa seratus persen mengikatnya dalam kenyamanan perasaan. Aku selalu terjebak dalam kegalauan juga ketidakpastian. Cinta yang tak terucap. Dia selalu datang dan pergi, bagai matahari yang muncul di balik awan pegunungan dan tenggelam di tenangnya permukaan laut. Guratan kehadirannya hanya bisa terjamah dengan selembar tiket Jakarta –Australia.
Hingga suatu hari, Dave tiba-tiba muncul di depanku dengan tiga kopor besar, tersenyum dengan lebarnya. Dia akan menetap di Indonesia, melakukan peninjauan alam bawah laut untuk proyek konservasi alam bawah laut. Tapi, itu sudah tiga tahun yang lalu. Tak ada yang terjadi di antara ku dan dia, meski aku tahu dia tidak bersama orang lain, tapi dia pun tidak bersamaku.
Apakah benar cinta harus terkatakan? Dan, salahkah bila mendambakan cinta yang entah butuh perkataan atau tidak itu berlabuh dengan pasti lewat guratan namanya pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis? Tapi, keberanian itu tak pernah muncul pecah lewat kata-kata. Setidaknya labuhan pertanyaan akan kelanjutan kasih sayang yang sepertinya semakin tak berujung ini.
Dan, besok, dengan kapal cepat pertama di pagi hari, dia harus segera menggusur langkah. Tiba di jakarta dan kembali terbang ke Adelaide. Kenyataan itu meruntuhkan segenap harapanku, bahkan untuk sekadar bertanya.
“Enak?” Tanyaku sembari memperhatikannya melahap mie sop buatanku.
“Nggak gosong! Nggak asik!” Mulutnya manyun. Kucubit gemas pangkal lengannya. Dia hanya menyeringai. Dia masih saja terus meledek mie sop ku yang hangus sepuluh tahun lalu? Ah, lihatlah caranya menghirup kuah pedas itu, sungguh lucu sekali.
“Kenapa melihati aku seperti itu? Aku jadi tidak selera makan, jadi ingin memandangmu juga...” Senyumku semakin lebar. Bagaimana bisa memindahkan pandang dari bangir hidung blasterannya, juga cokelat rambutnya.
“Pasti ada yang kamu pikirkan.., benar, kan?” Tanyanya.
“Kamu pikir bisa bohong dari aku?”
“Hanya sedang memikirkan, akan kulabuhkan kemana rasa kangenku saat kamu pergi?”
Tak ada tanda-tanda kegugupan, Dave tahu betul bahwa aku pasti kangen padanya. Dengan santai dia tersenyum.
“Kamu tidak akan kangen padaku....,”ujarnya dengan mantap. Keningku berkerut. Dihembusnya jempolnya dan mengusapkannya pelan di antara kedua alisku.
“Ssssst, jangan mengernyitkan kening begitu, jadi mirip Mbah!” Kami tertawa. Namun, perasaanku tetap bermain. Mengapa dia bilang, aku tak kan kangen? Waktu satu tahun akan menjadi penghalau mata ini memandang wujudnya. Merintangi wajah ini untuk menyentuh tatapannya. Segalanya dapat terjadi. Segalanya dapat berubah.
“Mbah lagi apa ya? Kok jadi kangen?” Tanyaku. Ingat pada neneknya yang tak pernah melepaskan batik solo dari penampilan sehari-harinya yang bersahaja namun karismatik, sebuah bakat yang juga muncul di diri cucunya. Ah, Mbah...aku jadi ingat, suatu kali aku pernah minum teh bersama Mbah, kami asyik membahas tentang bunga anggrek kesukaannya yang juga favoritku. Kami suka berbincang di halaman belakang rumah, duduk di kursi rotan yang jadi terlihat sangat kontras dengan meja kecil jenjang marmer yang elegan.
Mbah sangat suka anggrek berwarna violet, apapun jenisnya, dia sangat mengagumi warna itu. Menurutnya, warna itu menggambarkan keceriaan dan kekaleman pada saat bersamaan, sedangkan anggrek ungu itu pencemburu dan penyedih...Hmm, komentarnya terhadap warna anggrek acuan mataku.
“Tapi anggun dan mempesona....” Sambung Mbah, dan aku tersenyum malu, seakan itu adalah pujian Mbah untukku, bukan anggrek unguku.
“Apa Mbah masih saja menyuruhmu melamarku?” Godaku, Dave malah tertawa terbahak-bahak.
“Terakhir ketemu Mbah, aku disuruh untuk tidak pulang lagi ke sana, kecuali ada cincin di jariku!”
“Lho, kok Mbah aneh, sih? Mestinya laki-laki yang memasangkan cincin!”
“Entah itu, Mbah. Aku juga bilang begitu. Tapi sepertinya Mbah mulai tidak percaya kalau suatu saat aku akan melamar anak orang, mungkin akulah yang harus dilamar. Hahaha...”
Aku jadi ikut tertawa bersamanya, dalam dingin getir yang berhembus. Benar juga, berapa lama mengenalnya, satu-satunya perempuan yang dekat dengannya hanya aku. Jadi, wajar Mbah semakin gelisah melihat tingkah cucunya yang satu ini yang sepertinya takut dengan perempuan lain tapi tidak juga melamarku. Entah itu berkah buatku atau malah musibah, karena tak ada juga laki-laki yang berani dekat denganku dengan adanya dia yang selalu di sampingku.
“Jadi, besok tidak bisa mengantarku?”
Aku menggeleng.
“Sampai pelabuhan pun?”
Aku masih menggeleng.
“Ada meeting pagi seperti biasa”
Dave mengangguk-angguk.
“Tidak apa-apa, kan? Kalau kamu balik nanti, aku jemput di bandara” Aku benci lambaian tangan, tapi damba menunggu pelukannya di koridor bandara.
“Setahun lagi...” kataku miris.
“Hei, apa maksudmu?” Tanya Dave.
“Maksud yang mana?”
“Dengan nada seperti itu? Setahun lagi?”
“Ya, setahun lagi! Benar, kan?”
“Tapi, nada suaramu....”
“Kenapa dengan nada suaraku?”
Dave mendengus pelan. Sekarang, seharusnya aku yang bertanya, ada apa dengan dia? Ada apa dengan perasaannya terhadap nada suaraku. Mengapa dia berpikir seperti itu? Bukankah, seharusnya aku yang mempertanyakan mengapa dia bertanya...?
“Setahun lagi, menjemputmu di Bandara, lalu memulai lagi denganmu, beberapa bulan kemudian, kau akan pergi, dan aku kembali menunggu untuk menjemputmu....Berapa kali lagi?”
Dave terlihat bingung. Dia bingung, ini pertanyaan tentang pekerjaannya atau tentang hatinya. Ah, Dave.... Memutuskan apa yang kau pikirkan pun, tak mampu.
“Kamu mulai lagi....Tentang hubungan kita...” Ucapnya pelan.
“Kamu pikir tentang apa, Dave?” nada suaraku tidak lagi meninggi seperti tiga atau empat tahun lalu, ketika dengan santainya dia bertanya mengapa aku menunggu. Tentang apakah semua ini? Tanyanya waktu itu yang membuatku meledak. Aku marah. Dan, merasa cukup berhak untuk marah. Karena aku mencintaimu! Itu ucapanku waktu itu. Aku tak percaya, jika detik ini dia kembali bertanya. Sungguh, tidak adakah dia bermain rasa dengan apa yang aku rasakan?
“Aku tidak tau, apakah kita akan bicara lagi seperti dulu?”
“Menurutmu?” Aku balik bertanya.
“Dave, aku tak ingin menunggu setahun lagi, atau sedetik lagi, untuk sebuah kesia-siaan” potongku, dia terlihat kaget.
“Sia-sia?”
Kuangkat bahuku. Aku bisa bilang apa. Hampir sepuluh tahun dalam hubungan tanpa status dengannya. Ah, apakah ini persoalan status? Hanya setipis itu? Sebuah status? Pentingkah? Mengapa pikiranku kembali dibaluri pertanyaan-pertanyaan itu? Dan, mengapa harus merasa bersalah, jika memang itu yang aku ingin untuk aku tahu?
“Adakah orang lain?” Tanyanya. Membuatku tersenyum, sungguh aneh.
“Hanya ada aku dan kamu!” Tunjukku ke dadanya.
“Kamu bosan dengan aku?” Tanyanya lagi. Kali ini aku nyaris tertawa.
“Bulan depan, satu angka lagi bertambah untuk usiamu, tiga belas hari kemudian, aku menyusul. Kamu tahu apa yang ingin aku dengar selama hampir 10 tahun? Kata-kata, kamu cinta aku...” kataku.
Dave terbata. Kuriaki dalam matanya yang biasanya terasa hangat, namun detik ini begitu kering dan gersang.
“Katakan, sekali saja, kamu cinta aku!” kutunggu jawabnya, tapi hanya matanya yang menyapu pandang ke sudut daguku.
“See, it’s truly wasting time........” kataku setelah bermenit kemudian.
“Jika itu saja, tidak bisa kamu ucapkan, bagaimana bisa aku bermimpi tentang hal lain?” kutundukkan wajahku. Menyegerakan diri pamit dari bingkai tatapannya.
***
Langit terang kembali berdiri dengan tegak. Setelah milyaran bintang semalam hilang cahaya. Riak ombak terdengar nyaring dalam ruangan rapat kantorku, sesaat setelah pertemuan staff selesai, dan aku menyisakan sosok di depan sebuah jendela kaca, memandang laut lepas yang hanya beberapa meter jarak di depan langkah.
Pelan air mataku menetes. Sungguh rumit, bahkan untuk memilih di antara pilihan yang kubuat sendiri. Melindungi hati menjadi begitu naif, ketika yang kudapati justru hatiku yang berontak, melawan pikiranku. Hatiku kangen padanya. Hatiku tidak ingin lepas mencintai, bahkan ketika mulutku berkata, aku telah berhenti! Sepuluh tahun kurasa cukup untuk hanya menanti sebuah kata cinta. Dan, yang membuatku sakit hati, ternyata waktu selama itu pun masih belum bisa membuatnya menyakinkan apa yang dirasakannya terhadap aku dan dia.
Puluhan kilometer di seberang, pelabuhan kecil telah begitu ramai dengan penumpang kapal cepat yang bertaburan dengan pikiran mereka masing-masing. Mungkin, tentang rindu pada pekerjaan atau pada rumah dengan segenap kehangatan di sebuah seberang yang lain.
Telepon genggamku bergetar. Dave mengirimku sms? Sebuah tas dokumen yang seharusnya dibawanya, tertinggal di kamar, dan aku harus mengambil dan mengantarnya ke pelabuhan? Kepalaku mendadak pusing tujuh keliling, aku menahan cemas. Seorang Dave bisa seceroboh ini? Meninggalkan dokumen dan sampel yang menjadi alasannya untuk kembali ke Adeilaide? Ah.... Aku tiba di rumahnya, insting mengambil kunci di bawah pot bunga anyelir. Tas yang dimaksud terletak dengan meringis di sudut ruangan, pasti dia tertinggal karena bentuknya yang lumayan mungil. Kuraih dan setengah berlari menuju mobil dan beranjak dari sana.
Tapi, kapal cepat itu sudah berangkat. Beberapa meter saja di depanku. Aku meloncat di tempat, berteriak memanggil namanya dengan bingung, hingga akhirnya menyerah. Aku terduduk di kursi tunggu pelabuhan, dengan gontai menopang kepala. Melepaskan tas mungil itu hingga menyentuh sepatuku. Kutelengkupkan muka dan mulai menangis penuh kesedihan. Seolah tas yang tertinggal ini adalah hatiku. Tertinggal begitu jauh dan dengan begitu tak penting. Mengapa dia bisa seceroboh ini? Meninggalkan tas dan hatiku demikian rupa? Seakan dia tak pernah tahu apa yang penting dan tidak untuk dirinya. Apa gunanya membawa semua kopor berisi baju, dan playstation kesayangannya, sedang hal yang paling penting tertinggal di sudut ruangan seperti itu? Apa gunanya hidup begitu bahagia, dengan segala senyum itu jika dia melupakan bahwa akulah yang membuatnya bahagia? Melengkapi sebelah hatinya hingga penuh terisi cinta yang dia tidak mengakuinya?
“Dave yang bodoh.....” gumamku.
Bahuku dihuyung dengan pelan. Aku baru menyadari seseorang telah duduk di sampingku.
“”Kamu?” Tak percaya pada apa yang kulihat. Dave....
“Aku tidak mungkin pergi tanpa ini....” Ucapnya seraya meraih tas dari lantai ke pangkuannya. Aku mengangguk.
“Maaf, aku terlambat...Kalau saja, aku bisa menyetir lebih cepat. Siang nanti masih ada kapal cepat, sudah tunda tiket pesawat?” Tanyaku. Dave mengangguk.
“Ok, aku pergi, masih harus ke kantor,” Aku beranjak, tanpa melihat padanya. Walau sekilas pun lagi.
“Karin,” Aku menoleh, menghentikan langkah.
“Dari kecil, aku takut pada laut bahkan hanya dengan suaranya, tapi karena kamu mencintai laut, aku belajar menyukainya. Aku kuliah kelautan karenamu. Kamu tidak pernah tau, kan?” ucap Dave.
“Di Adelaide, ketika pertama kali aku tahu, kamu alergi bumbu, sebulan penuh aku habiskan waktu untuk belajar masakan kesukaanmu, hanya agar kamu kagum padaku, yang ternyata bermanfaat untuk mengobati homesickmu. Kamu belum lagi tahu, kan?”
Aku terperangah.
“Aku tidak mengerti, mengapa aku bisa begitu jauh berubah hanya dengan hadirmu dalam kehidupanku. Aku bingung, ketika aku tidak lagi suka kopi, aku berhenti merokok, aku jadi ikut-ikutan menangis menonton drama korea bersamamu, dan aku bisa menyelam setelah belasan tahun aku membenci laut, semua karenamu.”
“Hingga akhirnya, aku tiba di titik dimana aku tidak bisa membedakan lagi, siapa diriku dan siapa dirimu. Karena aku dan kamu terlihat sama, seperti pada satu tubuh, dan aku lupa, apa yang sesungguhnya aku sukai, dan apa yang aku benci.” Dave berhenti di situ. Matanya berlinang, suaranya gemetar, dan untuk pertama kalinya diangkatnya wajahnya yang memerah menatap wajahku.
“Aku mencintaimu.....” Air matanya menetes, melumerkan sebungkah rasa di hatiku yang tidak aku mengerti. Aku tidak bergeming, bukan karena tak ingin, tapi lantaran tidak mampu. Apa yang aku dengar terasa nyaring dan gaib. Menempuh perjalanan surut sepuluh tahun ke belakang. Dan kembali lagi sekelebat dalam suasana ini.
“Aku membuatmu kehilangan dirimu, aku sungguh tidak sengaja. Aku tidak ingin kamu seperti ini. Seandainya aku tahu kamu tidak suka apa yang kini kamu cintai, aku sungguh tidak sengaja....,” Aku kembali menangis.
“Aku telah menyakitimu....” kataku terbata. Dave mengangguk.
“Kamu menyakitiku hanya satu kali itu, dengan mempertanyakan cintaku. Dan, aku begitu bodoh, karena tidak menjawabnya.”
Aku dan Dave saling tatap. Dia masih duduk sambil menengadahkan wajah, sedang aku masih berdiri, menempatkan wajah penuh dalam matanya.
“Kamu tau? Tas ini tertinggal, karena semalam, aku kembali membongkarnya. Aku ingat, tiga tahun lalu, ketika aku tiba pertama kali di pulau ini, itu untuk bertemu denganmu, dan hanya karena alasan menemuimu. Kusimpan dua cincin di salah satu sakunya. Dan, kamu tahu, semalam, ternyata masih ada......,” Dave tersenyum dengan mata yang masih berair. Lalu meraih dua tanganku dalam erat genggamnya.
“Kamu mau lihat?”
Aku mengangguk dan tersenyum.
“Tapi, kamu mau janji?”
“Janji apa?” Dave diam sejenak.
“Memiliku selamanya..” Ucapnya syahdu. Aku memandang dalam mata yang kembali penuh berarir, dengan tenang mengimitasi lekuk senyumnya. Beku bibir meretakkan kegalauan yang berumur bak ratusan abad, menyisakan debar dalam ruang kelegaan. Kali ini, sebelum sempat aku mengangguk, dengan pelan diraihnya pundakku, menenggelamkan kepalaku, menemui hangat peluk, sehangat summer dan autumn, di sepanjang musim............
=seperempat dari seratus April=